Samarinda, Infosatu.co – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pertambangan mulai terasa di Kota Samarinda. Sepanjang 2026, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Samarinda mencatat sekitar 560 mantan pekerja tambang mengajukan pembuatan kartu pencari kerja (AK-1) sebagai syarat mencari pekerjaan baru.
Kepala Disnaker Samarinda Yuyum Puspitaningrum mengatakan sebagian besar pekerja yang terdampak berasal dari perusahaan tambang yang menghentikan operasional karena proyek telah selesai maupun melakukan efisiensi usaha.
“Perusahaannya memang tutup karena close project dan ada efisiensi,” ujarnya saat ditemui di sela Mahakam Job Fair 2026 di Samarinda Square, Kamis, 23 Juli 2026.
Untuk membantu para korban PHK kembali bekerja, Disnaker menghadirkan Mahakam Job Fair 2026 yang mempertemukan pencari kerja dengan puluhan perusahaan.
Lowongan yang tersedia tidak hanya diperuntukkan bagi lulusan baru, tetapi juga bagi tenaga kerja berpengalaman, termasuk eks pekerja tambang.
Yuyum menjelaskan sejumlah posisi yang dibuka antara lain operator alat berat, mekanik, hingga berbagai bidang lain sesuai kebutuhan masing-masing perusahaan.
“Ada lowongan operator alat berat, mekanik, hingga bidang lainnya. Namun semuanya tetap melalui persaingan sesuai kebutuhan perusahaan,” katanya.
Di tengah bertambahnya pencari kerja akibat PHK, kondisi ketenagakerjaan Samarinda secara umum masih menunjukkan tren positif.
Berdasarkan data tahun 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun dari 5,75 persen menjadi 5,31 persen, atau berkurang 0,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, Yuyum mengakui tantangan penyerapan tenaga kerja masih cukup besar. Saat ini masih terdapat sekitar 20 ribu penduduk usia produktif yang belum memperoleh pekerjaan sehingga pemerintah terus berupaya memperluas akses lapangan kerja.
Selain melalui bursa kerja, Disnaker juga menghadirkan sistem auto matching yang menghubungkan data pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan secara otomatis.
Sistem tersebut diharapkan mampu mempercepat proses rekrutmen sekaligus meningkatkan peluang pencari kerja memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya.
“Target kami tentu sebanyak mungkin pencari kerja bisa bekerja. Makanya sekarang ada sistem auto matching yang masuk ke aplikasi Disnaker,” jelasnya.
Disnaker juga terus memperkuat program pelatihan vokasi dan kewirausahaan, mulai dari servis telepon seluler, servis sepeda motor injeksi, menjahit, tata rias, hingga keterampilan di bidang makanan dan minuman.
Program tersebut dipadukan dengan kerja sama bersama Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) serta lembaga pelatihan kerja agar peserta memiliki sertifikasi kompetensi dan peluang kerja yang lebih besar.
“Ini menjadi tantangan kami bagaimana mengurangi jumlah penduduk produktif yang belum bekerja. Karena bekerja itu keren,” pungkas Yuyum.
