Samarinda, Infosatu.co – Jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur (Kaltim) mencapai 327.160 kasus hingga 18 Oktober 2026.
Di tengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim memperkuat kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk menyalurkan 10 unit mesin oxygen concentrator ke sejumlah wilayah prioritas.
Penyaluran peralatan tersebut dilakukan melalui Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan untuk membantu penanganan awal pasien yang mengalami gangguan pernapasan sesuai kebutuhan medis.
Kepala Dinkes Kaltim Andi Muhammad Ishak mengatakan paparan asap karhutla perlu diwaspadai karena mengandung partikel halus yang dapat terhirup dan mengganggu saluran pernapasan.
Karena itu, Dinkes Kaltim meningkatkan koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memperkuat sosialisasi serta edukasi mengenai risiko kesehatan akibat kabut asap.
Pemantauan perkembangan kasus melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) juga dilakukan untuk mendeteksi potensi peningkatan gangguan kesehatan.
Berdasarkan data Dinkes Kaltim, Balikpapan menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 91.895 kasus. Berikutnya Kota Samarinda dengan 65.982 kasus dan Kabupaten Kutai Kartanegara mencapai 42.614 kasus.
Ishak mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap ringan dampak paparan asap, terutama ketika kondisi udara semakin tercemar.
“Jangan terlalu menganggap enteng asap ini. Artinya bahwa ini nyata, ada ancaman bahaya terkait partikel-partikel halus yang ada,” ujarnya saat dimintai keterangan, Jumat, 30 Oktober 2026.
Ia mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah. Aktivitas yang tidak mendesak juga sebaiknya dikurangi untuk membatasi paparan debu dan partikel halus dari asap.
“Kalau lagi beraktivitas di luar pakailah masker. Kalau tidak, ya jangan banyak beraktivitas di luar untuk mengurangi terhisapnya debu-debu ataupun juga partikel-partikel halus itu,” jelasnya.
Ancaman polusi udara tersebut juga terlihat dari kondisi kualitas udara di Samarinda.
Berdasarkan pemantauan BMKG Samarinda pada Jumat, 30 Oktober 2026, kualitas udara sempat berada pada kategori berbahaya dengan angka 322,7 hingga 504 µg/m³ sampai sekitar pukul 08.00 Wita.
Kondisi tersebut berangsur membaik setelah hujan mengguyur sejumlah titik di Samarinda meski berlangsung singkat. Pada pukul 14.40 Wita, kualitas udara tercatat sebesar 40,2 µg/m³ atau masuk kategori sedang.
Meski kualitas udara membaik, masyarakat tetap diminta mewaspadai kemungkinan peningkatan polusi, khususnya selama aktivitas karhutla masih berlangsung.
Anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit penyerta menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Warga yang mengalami batuk berkepanjangan, demam, atau sesak napas diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
