Samarinda, Infosatu.co – Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 di Samarinda sempat menembus sekitar 360 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Kamis, 17 September 2026 pagi.
Angka tersebut berada dalam kategori berbahaya berdasarkan klasifikasi kualitas udara yang digunakan dalam pemantauan Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda.
Kondisi terburuk tercatat sekitar pukul 08.00 Wita berdasarkan pemantauan konsentrasi PM2.5 secara real-time. Setelah mencapai titik tersebut, kadar partikulat berangsur turun sepanjang siang hari.
Pada pukul 11.00 Wita, konsentrasi PM2.5 berada di kisaran 240 µg/m³ atau kategori sangat tidak sehat. Angka tersebut kembali turun menjadi sekitar 170 µg/m³ pada pukul 12.00 WITA dan sekitar 120 µg/m³ pada pukul 13.00 Wita.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto Samarinda Riza Arian Noor menekankan kondisi kualitas udara Samarinda perlu menjadi perhatian masyarakat. Ia mengimbau warga menggunakan masker, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
“Kondisi kualitas udara sudah dalam kategori berbahaya. Saya harap masyarakat juga sudah paham dengan kondisi kualitas udara kita yang berbahaya ini, sudah menggunakan masker untuk beraktivitas di luar ruangan,” ungkapnya saat ditemui, Kamis, 17 September 2026.
Meski demikian, pemantauan pada pukul 14.00 Wita menunjukkan konsentrasi PM2.5 telah turun menjadi 62,8 µg/m³. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, dengan tren penurunan dibandingkan kondisi pada pagi hari.
Riza mengatakan kondisi udara juga berkaitan dengan peluang hujan di wilayah Kaltim.
Pada 16 dan 17 September, secara umum terdapat potensi hujan di sejumlah wilayah, tetapi peluangnya lebih besar di bagian utara dan barat Kaltim, seperti Berau, Kutai Timur, Mahakam Ulu dan Kutai Barat.
Sementara untuk Samarinda, peluang hujan relatif lebih kecil. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang tengah dilakukan untuk membantu meningkatkan peluang hujan di wilayah Kaltim.
Menurut Riza, keberhasilan OMC sangat bergantung pada keberadaan awan potensial. Tanpa awan yang memadai, penyemaian tidak dapat dilakukan secara optimal.
“Kalau kita melaksanakan operasi modifikasi hujan, bahan-bahan utamanya itu kan awan. Jadi yang kita sebutkan itu adalah awan potensial, sehingga yang kita harapkan juga hujannya relatif lebih baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, gerimis dengan intensitas rendah belum tentu cukup untuk membantu membersihkan partikulat di udara.
“Karena itu, pelaksanaan OMC diarahkan pada wilayah yang memiliki kondisi awan paling potensial untuk menghasilkan hujan,” demikian Riza.
