infosatu.co
Samarinda

Karang Mumus Mulai Mengering, GMSS-SKM Soroti Kerusakan DAS Samarinda

Teks: SKM di Kawasan Lambung Samarinda. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Sejumlah bagian Sungai Karang Mumus di Kota Samarinda mulai mengalami kekeringan saat musim kemarau. Kondisi itu terlihat dari kawasan hulu hingga bagian tengah sungai.

Penyusutan air tersebut menjadi gambaran kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Karang Mumus yang masih memiliki persoalan daya dukung lingkungan. Sementara di bagian hilir, keberadaan air masih dipengaruhi siklus pasang surut.

Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda Misman menyebut kondisi sungai saat ini berbeda antara bagian hulu, tengah dan hilir.

“Di bagian hulu, di area Sungai Bawang, Berambai dan Pampang, airnya mengering. Begitu juga di bagian tengah, Bendungan Lempake, Sekolah Sungai, Lempake Tepian,” ungkap Misman, Rabu, 16 September 2026.

Sedangkan di bagian hilir, mulai dari Griya Mukti hingga Jembatan Satu, masih terdapat air. Menurut Misman, kondisi tersebut terjadi karena bagian hilir masih dipengaruhi siklus pasang surut.

“Untuk bagian hilir bisa ada air karena siklus air pasang surut. Sedangkan bagian tengah dan hulu bisa ada air karena masih ada sedikit DAS, bukit, lembah, rawa dan tumbuhan liar yang tersisa,” ujarnya.

Misman mengingatkan kondisi tersebut dapat menjadi lebih serius apabila tutupan vegetasi di kawasan DAS terus berkurang. Menurutnya, keberadaan pohon, rumput liar dan ekosistem yang tersisa memiliki peran dalam menjaga ketersediaan air di kawasan hulu dan tengah.

“Untuk bagian hulu dan tengah di musim kemarau kalau DAS-nya, pohon dan rumput liarnya, habis akan terjadi kekeringan total,” katanya.

Sementara di bagian hilir, persoalan yang muncul saat kemarau tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya air. Misman menyebut kualitas air juga berpotensi terdampak limbah perkotaan dan intrusi air asin.

“Sedangkan di bagian hilir kalau kemarau akan tercemar limbah kota dan air asin atau intrusi,” ujarnya.

Karena itu, Misman menilai upaya menjaga Sungai Karang Mumus dan Mahakam tidak cukup hanya dilakukan dengan menangani kondisi sungainya. Pemerintah, menurut dia, perlu memperhatikan kawasan DAS sebagai satu kesatuan ekosistem.

“Terkait dengan air di Sungai Karang Mumus dan Mahakam, satu upaya yang harus dilakukan pemerintah harus merawat DAS Karang Mumus dan DAS Mahakam,” tegasnya.

Ia juga menyoroti kondisi DAS berkaitan langsung dengan persoalan kekeringan dan banjir yang terjadi pada musim berbeda. Ketika kemampuan DAS dalam menahan dan menyimpan air menurun, dampaknya dapat terlihat saat kemarau maupun musim penghujan.

“Sebab DAS yang rusak berdampak kekeringan bila kemarau dan kebanjiran bila musim penghujan,” katanya.

Misman juga mengkritisi perubahan fungsi sungai di kawasan perkotaan. Menurutnya, sungai selama ini lebih banyak diposisikan sebagai kanal untuk membuang air banjir, sementara fungsi sungai sebagai sumber air yang sehat belum menjadi perhatian utama.

“Secara umum gagal membagi ruang kehidupan. Sungai diubah menjadi kanal, difungsikan sebagai pembuangan air banjir. Tidak difungsikan sebagai sumber air bersih dan sehat yang harus dijaga kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya,” ujarnya.

Ia menilai persoalan utama banjir dan kekeringan tidak semata-mata berada pada sungai, melainkan pada kondisi DAS yang semakin kehilangan ruang ekologis.

“Penyebab utama kebanjiran dan kekeringan bukan sungai, tapi habisnya DAS,” pungkas Misman.

Related posts

Khairul Umam: Tantangan Jurnalisme Saat Berita Viral Lebih Dipercaya daripada Fakta

Emmy Haryanti

Siap-Siap Warga Samarinda! Event Night Market Hadir Oktober di Mal Lembuswana, Hadirkan 10 Wahana Bermain

Rizki

Dampak Intrusi Air Laut, Empat Hari Warga Sungai Kapih Rela Antre Berjam-Jam Demi Air Bersih

Rizki