Samarinda, Infosatu.co – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengajak generasi muda yang tidak mengalami langsung peristiwa 1998 untuk memahami sejarah melalui berbagai sumber secara kritis.
Menurut Atip, memahami sejarah tidak cukup hanya dengan mengetahui rangkaian peristiwa, tetapi juga membutuhkan kemampuan membaca fakta dan menempatkannya dalam konteks yang tepat.
Hal itu disampaikannya saat membuka Bedah Buku Jakarta 1998: Dari Soeharto ke Habibie (Krisis Ekonomi, Tragedi Trisakti, dan Jatuhnya Orde Baru) yang digelar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), di Auditorium FPIPS UPI, Senin 7 September 2026.
Atip mengatakan, peristiwa 1998 merupakan salah satu periode penting yang perlu dipahami generasi saat ini. Krisis yang awalnya terjadi di kawasan Asia turut memberikan dampak besar terhadap Indonesia, terutama terhadap kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.
“Thailand adalah negara pertama yang terimbas krisis pada 1998 dan tidak lama berimbas ke Indonesia. Saat itu muncul gerakan untuk mencintai produk dalam negeri dan nilai tukar dolar ke rupiah melambung ke angka tertinggi,” ujar Atip.
Ia menjelaskan, berbagai gejolak tersebut kemudian berkaitan dengan munculnya gerakan sosial dan mahasiswa yang ikut mendorong perubahan politik hingga berakhirnya pemerintahan Orde Baru.
Karena itu, Atip menilai literasi sejarah menjadi penting bagi generasi yang lahir setelah 1998. Mereka tidak mengalami langsung kondisi saat itu sehingga membutuhkan sumber pengetahuan yang dapat membantu memahami peristiwa secara lebih utuh.
“Literasi tidak hanya kemampuan membaca dan memahami teks, tetapi juga kemampuan menempatkan informasi dalam konteks sejarah yang tepat,” jelasnya.
Salah satu penulis buku, Dadan Wildan menyampaikan Jakarta 1998 disusun salah satunya untuk menjembatani pengetahuan sejarah dengan generasi yang tidak mengalami langsung berbagai peristiwa pada masa tersebut.
Ia menyebut krisis ekonomi, Tragedi Trisakti, gerakan mahasiswa, hingga mundurnya Presiden Soeharto menjadi sejumlah momentum penting yang dibahas dalam buku tersebut.
“Menjadi penting bagi generasi yang tidak mengalami peristiwa 1998 untuk mengetahui apa yang terjadi sebagai bagian dari transmisi pengetahuan, sehingga kesadaran sejarah dapat terbentuk dan menjadi refleksi,” tuturnya.
Penulis lainnya, Ely Malihah menambahkan bahwa krisis 1998 tidak hanya berdampak terhadap sektor ekonomi, tetapi juga memicu gejolak sosial berupa kerusuhan, penjarahan, dan kekerasan.
Di tengah situasi tersebut, mahasiswa di sejumlah daerah seperti Bandung, Jakarta, dan Surabaya bergerak menyampaikan aspirasi. Tragedi Trisakti kemudian semakin memperkuat kemarahan publik hingga gerakan mahasiswa berkembang menjadi salah satu kekuatan penting dalam perubahan politik.
Rektor UPI Didi Sukyadi menuturkan rangkaian peristiwa 1998 perlu terus didokumentasikan dan diketahui masyarakat, khususnya generasi muda.
Didi mengaku turut menyaksikan dinamika gerakan mahasiswa di Gedung Sate pada 1998 hingga kemudian menerima kabar Presiden Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya.
Pembelajaran dari sejarah 1998 dianggap masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Tantangan geopolitik global, kata dia, tetap berpotensi memberikan dampak terhadap perekonomian nasional. Karena itu, Didi menilai mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk memahami perubahan secara kritis dan kontekstual.
Bedah Buku Jakarta 1998 diikuti sedikitnya 150 mahasiswa secara langsung di Auditorium FPIPS UPI dan peserta lainnya secara daring. Kegiatan tersebut menjadi ruang akademik untuk membahas kembali peristiwa 1998 sekaligus mendorong budaya membaca dan diskusi di lingkungan perguruan tinggi.
