Samarinda, Infosatu.co – Pernah ada barang yang begitu lama diinginkan sampai-sampai rasanya harus segera dimiliki. Berbulan-bulan menabung, melihat ulasannya, membandingkan harga, hingga membayangkan betapa senangnya ketika barang tersebut akhirnya berada di tangan.
Namun, setelah berhasil membelinya, perasaan itu perlahan-lahan berubah.
Hari-hari pertama mungkin masih sering diperhatikan. Kemasan dibuka dengan antusias, barang digunakan dengan hati-hati, bahkan sesekali dilihat hanya karena merasa senang sudah memilikinya. Beberapa waktu kemudian, semuanya terasa biasa saja.
Bukan berarti barang tersebut tiba-tiba menjadi tidak bagus. Perasaan yang berubah itu ternyata memiliki penjelasan dalam psikologi.
Fenomena tersebut dikenal sebagai hedonic adaptation atau adaptasi hedonis, yakni kecenderungan manusia untuk terbiasa dengan perubahan dalam kehidupannya sehingga dampak emosional dari perubahan tersebut perlahan berkurang.
Psikolog Sonja Lyubomirsky menjadikan fenomena ini sebagai salah satu pembahasan penting dalam bukunya, The Myths of Happiness. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan yang kuat untuk beradaptasi terhadap perubahan, terutama perubahan positif.
Ketika sesuatu yang awalnya baru dan menyenangkan menjadi bagian dari keseharian, perhatian terhadapnya dapat berkurang. Sesuatu yang sebelumnya terasa istimewa akhirnya menjadi bagian dari rutinitas.
Dari “ingin sekali” menjadi “sudah biasa”
Bayangkan seseorang yang sejak lama menginginkan ponsel baru.
Sebelum membeli, ponsel tersebut mungkin memenuhi pikirannya. Ia membayangkan kamera yang lebih bagus, performa yang lebih cepat, desain yang menarik, hingga pengalaman ketika pertama kali menggunakannya.
Setelah terbeli, rasa senang memang muncul. Tetapi manusia tidak berhenti pada satu pengalaman.
Setelah digunakan setiap hari, ponsel tersebut menjadi bagian dari rutinitas. Hal yang sebelumnya menarik karena baru perlahan kehilangan efek kejutnya.
Lyubomirsky bahkan menggunakan contoh mobil baru untuk menjelaskan bagaimana sesuatu yang awalnya menyenangkan dapat menjadi begitu familiar sehingga seseorang mulai menganggapnya sebagai hal biasa.
Hal serupa bisa terjadi pada pakaian, sepatu, kendaraan, perangkat elektronik, bahkan kondisi kehidupan yang sebelumnya sangat diinginkan.
Mengapa sebelum punya terasa lebih menyenangkan?
Ada hal lain yang ikut berperan. Manusia ternyata tidak selalu akurat ketika membayangkan bagaimana perasaannya setelah mendapatkan sesuatu.
Daniel Gilbert membahas persoalan ini dalam buku Stumbling on Happiness. Menurut Gilbert, manusia kerap melakukan kesalahan ketika memperkirakan dampak emosional dari kejadian yang belum terjadi.
Seseorang dapat membayangkan bahwa mendapatkan sesuatu akan membuatnya sangat bahagia. Kenyataannya, setelah pengalaman tersebut benar-benar terjadi, perasaan yang muncul bisa berbeda dari perkiraan sebelumnya.
Itulah sebabnya fase menunggu terkadang justru terasa sangat kuat.
Ketika barang belum dimiliki, pikiran bebas membayangkan berbagai kemungkinan menyenangkan. Setelah barang tersebut menjadi kenyataan, unsur kejutan dan antisipasi perlahan menghilang.
Bukan berarti harus terus membeli barang baru
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa mengejar barang berikutnya tidak selalu menjadi jawaban.
Ketika rasa senang dari suatu barang mulai berkurang, seseorang bisa saja kembali mencari sesuatu yang lebih baru. Setelah mendapatkannya, siklus serupa dapat terulang.
Inilah yang dalam pembahasan psikologi sering dikaitkan dengan istilah hedonic treadmill atau “treadmill hedonis”. Seseorang terus mengejar perubahan baru, tetapi setelah terbiasa, perubahan tersebut kembali terasa normal.
Lyubomirsky menjelaskan bahwa adaptasi seperti ini merupakan bagian dari kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru.
Namun, adaptasi tersebut tidak otomatis berarti seseorang tidak bersyukur atau barang yang dimiliki tidak lagi berharga.
Yang berubah terutama adalah intensitas respons emosional terhadap sesuatu yang sebelumnya terasa baru.
Jadi, wajar kalau barang baru akhirnya terasa biasa
Jika sepatu yang dulu sangat diinginkan kini hanya menjadi sepatu yang dipakai setiap hari, atau ponsel yang dulu terasa luar biasa kini sekadar menjadi alat komunikasi, hal tersebut tidak selalu berarti ada yang salah.
Manusia memang memiliki kemampuan untuk beradaptasi.
Justru, memahami hedonic adaptation dapat membuat seseorang lebih sadar bahwa rasa senang dari sebuah pembelian mungkin tidak berlangsung selamanya. Dengan begitu, keputusan membeli sesuatu tidak semata-mata didasarkan pada bayangan bahwa barang tersebut akan terus membuat bahagia.
Sebab, seperti dibahas dalam The Myths of Happiness, manusia dapat terbiasa dengan perubahan positif jauh lebih cepat daripada yang mungkin dibayangkan.
