Samarinda, Infosatu.co – Sebanyak 270 siswa baru mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Samarinda pada Jumat, 31 Juli 2026.
Kegiatan tersebut menandai dimulainya operasional sekolah yang mengintegrasikan jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA dalam satu kawasan.
Sekolah Rakyat Terintegrasi merupakan program yang disiapkan pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Pada tahun ajaran perdana ini, masing-masing jenjang pendidikan menerima 90 siswa yang berasal dari Samarinda maupun sejumlah kabupaten/kota lain di Kalimantan Timur.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti mengatakan kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi menjadi wujud komitmen pemerintah menghadirkan kesempatan pendidikan yang setara bagi seluruh anak tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarga.
“Sekolah Rakyat Terintegrasi ini tidak dibangun dari tumpukan bata dan semen semata. Ia lahir dari sebuah mimpi besar Kota Samarinda, bahwa setiap anak, baik dari keluarga sederhana, nelayan, petani, maupun mereka yang selama ini terpinggirkan, memiliki hak yang sama untuk belajar, mengejar cita-cita, dan memperoleh pendidikan terbaik,” ujarnya.
Menurut Neneng, pendidikan berkualitas merupakan hak seluruh anak Indonesia, bukan keistimewaan yang hanya dapat dinikmati kelompok tertentu.
Karena itu, Sekolah Rakyat diharapkan mampu membuka kesempatan lebih luas bagi anak-anak yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan.
Ia menjelaskan konsep “terintegrasi” tidak hanya menggabungkan jenjang pendidikan mulai SD, SMP, hingga SMA dalam satu kawasan, tetapi juga mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pembentukan karakter.
“Kepintaran saja tidak cukup. Anak-anak harus tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas, berani mengatakan kebenaran, dan berakhlak mulia. Yang akan mengubah dunia bukan hanya orang pintar, tetapi orang-orang terbaik yang memiliki karakter,” katanya.
Neneng juga mengingatkan para siswa agar mampu mengikuti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tanpa kehilangan jati diri sebagai generasi Bumi Etam.
“Kuasailah teknologi, tetapi jangan pernah kehilangan jati diri sebagai putra-putri Bumi Etam. Jadilah generasi yang kakinya menapak di tanah, tetapi cita-citanya menjangkau bintang,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda Rabiatul Adawiyah menuturkan hari pertama MPLS diikuti 270 siswa baru, masing-masing terdiri atas 90 siswa SD, 90 siswa SMP dan 90 siswa SMA.
“Mereka datang didampingi orang tua maupun pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dari daerah masing-masing,” ujarnya.
Ia menjelaskan sebagian besar peserta didik berasal dari Kota Samarinda, namun ada pula siswa dari Kabupaten Kutai Kartanegara, Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), hingga Kabupaten Paser.
Selain siswa baru, sekolah juga akan menyambut kembali sekitar 250 siswa lama yang tinggal di asrama untuk mengikuti pemeriksaan kesehatan sebelum memulai kegiatan belajar.
Rabiatul berharap berbagai pihak dapat terus mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat agar anak-anak memperoleh pendidikan sekaligus pendampingan yang optimal.
“Anak-anak ini membutuhkan kasih sayang, pendampingan, dan perhatian bersama. Kami berharap seluruh instansi hingga masyarakat dapat bersama-sama membimbing mereka, karena mereka adalah masa depan Indonesia,” pungkasnya.
