Samarinda, Infosatu.co – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menghentikan aktivitas pertambangan batu bara pada 2026 sangat mungkin diwujudkan. Keberhasilan target tersebut diyakini bergantung pada konsistensi pemerintah dan dukungan seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan sektor ekonomi pengganti.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau (YMH) Dicky Edwin Hindarto mengatakan sejumlah daerah di Indonesia telah membuktikan pembangunan daerah dapat berjalan tanpa menjadikan sektor pertambangan sebagai penopang utama ekonomi.
Menurutnya, Kota Balikpapan sejak lama menerapkan kebijakan yang tidak memberikan ruang bagi kegiatan pertambangan di wilayahnya. Sementara itu, Kota Prabumulih di Sumatera Selatan, meski memiliki cadangan sumber daya alam yang besar, juga memilih mengembangkan sektor lain sebagai basis pembangunan.
“Selama pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen yang sama, tentu saja target itu sangat mungkin diwujudkan,” ungkapnya belum lama ini.
Ia menilai arah pembangunan Samarinda yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2022–2042 telah memberikan fondasi bagi transformasi ekonomi. Dalam dokumen tersebut, Samarinda diproyeksikan berkembang sebagai kota perdagangan dan jasa, sejalan dengan visi Wali Kota Andi Harun.
Dicky menambahkan, kawasan perkotaan seharusnya lebih diarahkan pada pengembangan sektor jasa, pendidikan, industri, dan pariwisata dibanding aktivitas pertambangan yang berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan maupun sosial.
Menurutnya, keberadaan tambang di sekitar kawasan permukiman tidak memberikan kondisi yang ideal bagi kualitas hidup masyarakat karena berisiko memicu berbagai persoalan lingkungan.
Selain perubahan arah pembangunan, Dicky juga menilai peluang ekonomi hijau atau green jobs dapat menjadi penopang baru bagi perekonomian Samarinda setelah ketergantungan terhadap batu bara berakhir.
Ia menjelaskan, konsep green jobs mencakup berbagai jenis usaha dan lapangan kerja yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan, mulai dari penggunaan kemasan berbahan alami sebagai pengganti plastik, produksi pangan berkelanjutan, hingga industri tekstil yang memanfaatkan pewarna alami.
Kata dia, potensi tersebut juga dapat diterapkan pada produk lokal seperti Sarung Samarinda apabila proses produksinya mampu memenuhi prinsip keberlanjutan sehingga memiliki nilai tambah di pasar.
Dicky menyebut tren pasar global terhadap produk rendah emisi atau zero emission terus berkembang dan membuka peluang baru bagi pelaku usaha, khususnya generasi muda yang mampu menghadirkan inovasi berbasis lingkungan.
“Green jobs sangat bergantung pada kreativitas. Bisa dikembangkan dari sektor makanan, garmen, maupun berbagai bidang lainnya,” pungkasnya.
