Samarinda, Infosatu.co – Kualitas udara di Samarinda memburuk pada siang hari. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Taman Segiri, Jalan Harmonika, Kelurahan Dadi Mulya, Kecamatan Samarinda Ulu, tercatat mencapai 102 pada Rabu, 2 September 2026 pukul 13.00 Wita.
Angka tersebut masuk kategori tidak sehat, berdasarkan klasifikasi ISPU dengan rentang 55,5 hingga 150,4.
Pada kondisi ini, kualitas udara dinilai mulai memberikan dampak merugikan bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan.
Kondisi tersebut sejalan dengan peningkatan partikulat PM2.5 yang terpantau pada siang hingga malam hari. Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda menyebut kualitas udara masih mengalami perubahan sepanjang hari, dengan kondisi yang cenderung lebih baik pada pagi hari.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Samarinda, dr Melliyani Agustini mengatakan kadar partikulat mulai meningkat sekitar pukul 12.00.
“Masker dianjurkan dipakai apabila beraktivitas di luar ruangan. Kalau dalam ruangan masih belum diwajibkan, karena yang terdampak sementara ini yang di luar,” ujarnya dalam koordinasi penanganan dampak kebakaran lahan di Kantor BPBD Samarinda, Rabu, 2 September 2026.
Menurut Melliyani, Dinkes belum mewajibkan penggunaan masker karena kondisi kualitas udara masih fluktuatif. Namun, apabila kadar PM2.5 terus meningkat dan tidak mengalami penurunan dalam beberapa hari ke depan, kebijakan tersebut akan kembali dievaluasi.
Dinkes juga belum merekomendasikan sekolah menerapkan pembelajaran dari rumah. Langkah tersebut baru akan dipertimbangkan apabila kualitas udara mencapai kategori berbahaya atau sangat tidak sehat.
“Kalau memang hasilnya sudah berbahaya atau sangat tidak sehat, nanti akan kita sampaikan anjuran mungkin anak sekolah untuk sekolah di rumah,” jelasnya.
Melliyani mengingatkan masyarakat tetap waspada terhadap paparan PM2.5. Partikulat berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk ke saluran pernapasan, sehingga warga yang harus beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker.
Di tingkat layanan kesehatan, Dinkes telah meminta Puskesmas meningkatkan kesiapsiagaan.
Petugas kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, dan surveilans diminta memantau kondisi warga untuk mengantisipasi dampak kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
Sementara itu, Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Madya DLH Samarinda Tri Ayu Wulandari mengatakan pengukuran kualitas udara terus dilakukan di sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak kebakaran lahan.
Pemantauan sebelumnya dilakukan di Bantuas dan dilanjutkan di Makroman pada Rabu. Petugas juga membagikan masker ke sejumlah sekolah yang berada di wilayah terdampak.
Selain Taman Segiri, pemantauan kualitas udara dilakukan menggunakan alat monitoring di Bandara APT Pranoto milik BMKG. Data kualitas udara terus diperbarui karena alat Air Quality Monitoring System (AQMS) melakukan pembacaan hampir setiap 30 menit.
DLH akan memperluas pemantauan ke titik lain dengan mengacu pada peta lokasi kebakaran dari BPBD, terutama wilayah yang mengalami banyak kejadian kebakaran lahan.
