Samarinda, Infosatu.co – Kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu bekal penting bagi keluarga dan pelaku usaha untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Bukan hanya soal memperoleh akses perbankan, masyarakat juga perlu memahami cara mengatur anggaran, membangun kebiasaan menabung, serta memanfaatkan layanan keuangan digital secara aman dan produktif.
Pesan tersebut mengemuka dalam puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, mewakili Wali Kota Samarinda, di Atrium Mahakam Utama Big Mall, Jalan Untung Suropati, Samarinda, Sabtu malam, 24 Oktober 2026.
Dalam kesempatan itu, Neneng mengungkapkan bahwa perluasan akses keuangan harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi masyarakat.
Menurutnya, pemahaman keuangan yang baik dapat membantu warga mengambil keputusan ekonomi secara lebih bijak, sekaligus memperkuat kemandirian keluarga dan keberlanjutan usaha.
“Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda ingin memastikan masyarakat tidak hanya memiliki akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak, aman, dan produktif.
Literasi keuangan menjadi bekal penting agar keluarga dan pelaku usaha dapat mengelola pendapatan serta merencanakan kebutuhan masa depan dengan lebih baik,” Ungkap Neneng.
Neneng menyebutkan dinamika ekonomi global dan ketidakpastian pasar dapat memberikan tekanan terhadap perekonomian daerah maupun rumah tangga. Dalam situasi tersebut, kemampuan mengelola keuangan menjadi semakin penting, baik bagi pemerintah maupun masyarakat.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, Pemkot Samarinda terus mendorong efisiensi tata kelola pemerintahan melalui digitalisasi transaksi, transparansi anggaran, dan optimalisasi pelayanan publik. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi proses birokrasi yang tidak perlu sekaligus meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran.
“Efisiensi bukan semata-mata tentang mengurangi pengeluaran. Yang lebih penting adalah memastikan setiap rupiah yang digunakan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, mendukung kegiatan ekonomi, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik,” Jelas Neneng.
Menurut Neneng, pemanfaatan teknologi digital juga perlu diperluas dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan layanan teknologi finansial atau financial technology (fintech), misalnya, dapat membantu pelaku usaha melakukan transaksi dengan lebih praktis dan efisien.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemudahan transaksi digital perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan pengeluaran serta memahami risiko layanan keuangan.
Teknologi seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat usaha, bukan mendorong perilaku konsumtif yang berlebihan.
“Digitalisasi harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kami mendorong warga dan pelaku UMKM memanfaatkan layanan digital untuk mendukung usaha, memperluas transaksi, dan mengelola keuangan dengan lebih tertib, tetapi tetap memperhatikan keamanan serta kemampuan finansial masing-masing,” Ucapnya.
Pembukaan BIK 2026 juga dirangkaikan dengan kegiatan BIMA ETAM (Business Matching dan Edukasi Keuangan), yang merupakan bagian dari sinergi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Kota Samarinda bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia.
Program tersebut menjadi salah satu upaya mempertemukan kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha dengan akses terhadap layanan keuangan formal.
Perhatian khusus juga diberikan kepada perempuan dari kelompok rentan sosial ekonomi serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang memiliki peran penting dalam menopang perekonomian keluarga.
Neneng menilai, pemahaman mengenai penyusunan anggaran rumah tangga, kebiasaan menabung, dan pemilihan pembiayaan melalui lembaga resmi dapat membantu keluarga membangun ketahanan ekonomi.
Bagi pelaku UMKM, pengetahuan tersebut juga penting untuk memisahkan keuangan pribadi dan usaha, memperhitungkan biaya operasional, serta merencanakan pengembangan bisnis.
“Ketahanan ekonomi keluarga dimulai dari pengelolaan keuangan yang baik. Kami berharap kegiatan edukasi seperti ini membantu masyarakat lebih terencana dalam menggunakan pendapatan, membiasakan diri menabung, dan memilih layanan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan membayar,” tutup Neneng. (ADV)
