infosatu.co
PEMERINTAH

Karhutla Masih Tinggi, DLH Samarinda Waspadai Asap Menebal Siang hingga Malam

Teks: Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda Suwarso. (Dok/Infosatu)

Samarinda, Infosatu.co – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda masih menunjukkan frekuensi kejadian yang perlu diwaspadai. Selain jumlah kejadian, luasan lahan yang terbakar juga disebut terus bertambah dan berpotensi memperburuk kualitas udara.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda Suwarso mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan lahan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat melalui penurunan kualitas udara.

“Masih tinggi ya frekuensi kejadian kebakaran lahan, kemudian tingkat luasannya juga bertambah,” kata Suwarso.

Kondisi asap di Samarinda dapat berubah-ubah mengikuti perkembangan kebakaran dan arah angin. Bahkan, pada waktu tertentu, asap dapat terasa lebih tebal dan memengaruhi kualitas udara di sejumlah kawasan.

Menurut Suwarso, periode siang hingga sore menjadi salah satu waktu yang perlu mendapat perhatian. Kebakaran yang terjadi pada siang hari dapat menyebabkan asap terus memengaruhi kondisi udara hingga malam.

“Yang agak rawan tuh kadang-kadang jam 2 siang sampai sore itu asap yang makin tebal,” ujarnya.

Wilayah Palaran, Sambutan dan Samarinda Ulu menjadi sejumlah kawasan yang mendapat perhatian karena memiliki frekuensi kejadian kebakaran lahan yang relatif tinggi.

Namun, kondisi kualitas udara tidak bersifat tetap. Arah angin dapat membuat asap berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Bahkan, asap dari kebakaran di luar Samarinda juga berpotensi terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara di dalam kota.

“Kondisi kualitas udara saat ini masih berada pada kategori sedang berdasarkan hasil pemantauan. Tapi tetap perlu diwaspadai karena peningkatan kejadian karhutla dapat membuat kualitas udara menurun,” terangnya.

Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika beraktivitas di luar rumah pada saat asap mulai menebal.

Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi paparan asap.

“DLH juga melakukan pembagian masker dengan memprioritaskan kawasan yang memiliki frekuensi kebakaran tinggi atau wilayah dengan kualitas udara yang mendekati kondisi buruk” pungkasnya.

Related posts

Kemarau Berlanjut, Warga Diminta Waspadai Kelangkaan Air Bersih

Emmy Haryanti

Kondisi Lapangan Berubah, BPBD Samarinda Sesuaikan Strategi Pemadaman Kebakaran

R'sya Rahmadina

Kemarau Panjang, 654,5 Hektare Lahan Pertanian Samarinda Terdampak Kekeringan

Rizki