Bontang, infosatu.co – Jumlah balita stunting di Kota Bontang masih tercatat sebanyak 1.489 anak dan tersebar di hampir seluruh kelurahan. Dari data yang dipaparkan Pemerintah Kota Bontang, Kelurahan Loktuan menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 190 balita stunting.
Data tersebut disampaikan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, sebelum rapat paripurna di Gedung DPRD Kota Bontang, Rabu, 13 Mei 2026.
Selain Loktuan, wilayah dengan jumlah balita stunting cukup tinggi yakni Tanjung Laut sebanyak 147 anak dan Tanjung Laut Indah dengan 146 anak.
Sementara itu, Kelurahan Bontang Lestari tercatat memiliki 124 balita stunting dengan prevalensi tertinggi di Kota Bontang yang mencapai 22,71 persen.
Kelurahan lain yang juga mencatat angka cukup tinggi di antaranya Berebas Tengah sebanyak 117 balita, Api-Api 112 balita, Gunung Elai 107 balita, Gunung Telihan 99 balita, Belimbing 93 balita, Guntung 83 balita, hingga Berbas Pantai sebanyak 80 balita stunting.
Sedangkan Bontang Baru tercatat memiliki 74 balita stunting, Satimpo 51 anak, Bontang Kuala 45 anak, dan Kanaan menjadi wilayah dengan jumlah paling sedikit yakni 21 balita stunting.
Menanggapi kondisi tersebut, Neni meminta seluruh kelurahan lebih aktif melakukan intervensi terhadap kasus stunting di wilayah masing-masing.
Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan, tetapi harus melibatkan lurah, ketua RT, kader kesehatan, hingga perusahaan melalui program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL).
“Ironis sekali Kota Bontang masih ada stunting. Padahal banyak perusahaan di sini. Ini kesempatan kita bersama-sama melakukan intervensi melalui TJSL,” ujarnya.
Neni menegaskan setiap lurah harus mengetahui secara rinci lokasi dan kondisi anak stunting di wilayahnya agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
“Lurah harus tahu anak-anak stunting tinggal di mana. Ketua RT, kader, semua harus bergerak. Tidak bisa hanya diam,” katanya.
Ia juga menyoroti Kelurahan Guntung yang masih memiliki 83 balita stunting meski berada di sekitar kawasan industri dan perusahaan besar.
Menurutnya, keberadaan perusahaan di wilayah tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat intervensi penanganan stunting melalui program TJSL.
“Guntung itu kan dekat dengan perusahaan besar. Masa 83 anak tidak bisa ditangani? Tahun ini upayakan selesai,” tegasnya.
Meski angka stunting masih cukup tinggi, Pemerintah Kota Bontang mencatat prevalensi stunting terus mengalami penurunan sepanjang 2025.
Jika pada 2024 prevalensi stunting berada di kisaran 20 persen, maka pada 2025 turun menjadi 17 persen. Bahkan pada semester pertama 2025, angka stunting di Kota Bontang sempat menyentuh 15,9 persen.
Penurunan tersebut disebut terjadi setelah pemerintah melakukan intervensi intensif terhadap ribuan balita yang rutin menjalani penimbangan dan pemantauan kesehatan. (Adv)
