infosatu.co
EKONOMI

IKN Bisa Jadi Katalisator atau Beban bagi Ketahanan Pangan Kaltim?

Teks: Guru Besar Fakultas Pertanian Unmul Prof. Dr. Bernatal Saragih. (ist)

Samarinda, Infosatu.co — Pertumbuhan Ibu Kota Nusantara (IKN) membuka peluang besar bagi sektor pertanian Kalimantan Timur (Kaltim) tetapi sekaligus menghadirkan tantangan baru. Tanpa peningkatan produksi dan distribusi pangan lokal, pertumbuhan penduduk serta aktivitas ekonomi di sekitar IKN justru berpotensi menambah beban ketahanan pangan Kaltim.

Peringatan tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul) Prof Dr Bernatal Saragih dalam Seminar Ketahanan Pangan yang digelar pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Bernatal mengatakan keberadaan IKN harus dipandang sebagai momentum untuk memperkuat ekosistem pangan Kaltim. Pertumbuhan ibu kota baru akan menciptakan pasar yang lebih besar, tetapi peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila produksi daerah mampu mengimbanginya.

“IKN bisa menjadi katalisator, tapi juga bisa menjadi beban tambahan, tergantung apakah produksi dan distribusi lokal kita diperkuat atau tidak,” kata Bernatal.

Ia menjelaskan ketahanan pangan tidak sebatas persoalan ketersediaan bahan pangan. Ada empat aspek yang harus diperhatikan, yakni ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas.

Kaltim dinilai memiliki indeks ketahanan pangan yang relatif tinggi. Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh wilayah memiliki kondisi yang sama.

Kesenjangan antarkabupaten dan kota masih menjadi persoalan, terutama karena biaya logistik yang tinggi serta kondisi geografis sejumlah wilayah pedalaman yang sulit dijangkau.

Situasi tersebut menjadi semakin penting ketika IKN berkembang dan kebutuhan pangan ikut meningkat. Jika distribusi tidak diperbaiki, produksi pangan yang tersedia di suatu wilayah belum tentu dapat dengan cepat menjangkau daerah yang membutuhkan.

Karena itu, Bernatal mendorong penguatan sistem distribusi pangan melalui pembangunan lima hub logistik regional.

Hub tersebut nantinya diharapkan dapat mengintegrasikan berbagai moda transportasi, mulai dari jalur sungai, jalan nasional, pelabuhan hingga bandara.

Dengan konektivitas yang lebih baik, pasar pangan Kaltim yang selama ini terfragmentasi dapat dihubungkan sehingga distribusi hasil pertanian menjadi lebih efisien.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Bidang Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim, Lani Tanujaya menilai, Kaltim sebenarnya memiliki peluang untuk meningkatkan produksi pertanian. Salah satunya terlihat dari produksi jagung yang meningkat lebih dari 160 persen, dari 3.955 ton pada 2024 menjadi 10.290 ton pada 2025.

Menurut Lani, peningkatan produksi tersebut perlu diikuti kepastian pasar agar petani memiliki alasan ekonomi untuk terus meningkatkan usaha taninya.

Pertumbuhan IKN dengan demikian tidak hanya menjadi proyek pembangunan kawasan, tetapi juga momentum untuk menentukan posisi Kaltim dalam rantai pasok pangan.

“Daerah ini dituntut tidak sekadar menjadi pasar bagi pangan dari luar, melainkan mampu mengambil peran sebagai pemasok kebutuhan ibu kota baru,” pungkasnya.

Related posts

Lima Hub Logistik Diusulkan untuk Atasi Distribusi Pangan Kaltim

Emmy Haryanti

Kaltim Masih Defisit Beras 170 Ribu Ton, Ketahanan Pangan Diuji di Tengah Pertumbuhan IKN

Emmy Haryanti

Konsep Pasar Pagi Dievaluasi, DPRD Soroti Fungsi Ekonomi yang Belum Optimal

Emmy Haryanti