infosatu.co
KESEHATAN

Deteksi Terlambat Penyebab Utama Kematian HIV di Samarinda

Teks: Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda Ismed Kusasih. (Dok/Infosatu)

Samarinda, Infosatu.co – Keterlambatan mengetahui status HIV masih menjadi tantangan terbesar dalam upaya menekan angka kematian akibat HIV/AIDS di Kota Tepian. Banyak penderita baru memeriksakan diri ketika infeksi sudah memasuki stadium lanjut, sehingga peluang keberhasilan pengobatan menjadi lebih kecil.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda Ismed Kusasih mengatakan kondisi tersebut masih menjadi penyebab utama tingginya angka kematian pasien HIV di daerah ini.

Hingga Juni 2026, tercatat 29 orang meninggal dunia akibat HIV/AIDS. Menurutnya, HIV sebenarnya dapat dikendalikan apabila terdeteksi sejak dini dan penderita segera menjalani terapi antiretroviral (ARV) secara rutin. Namun, masih banyak masyarakat yang enggan memeriksakan diri karena minimnya kesadaran maupun kekhawatiran terhadap stigma.

“Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang penderita menjalani hidup sehat dengan terapi yang tersedia secara gratis,” ungkapnya.

Dinkes mencatat jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Samarinda hingga pertengahan 2026 mencapai 4.427 orang. Dari angka tersebut, sebanyak 2.494 orang masih aktif menjalani pengobatan ARV yang berfungsi menekan perkembangan virus sekaligus mengurangi risiko penularan.

Sementara itu, sepanjang Januari hingga Juni 2026 ditemukan 184 kasus baru HIV. Kelompok laki-laki suka laki-laki (LSL) masih menjadi penyumbang terbesar dengan proporsi sekitar 41 persen dari total kasus baru yang ditemukan.

Untuk mencegah semakin banyak pasien datang dalam kondisi terlambat, Dinkes terus memperluas layanan deteksi dini melalui pemeriksaan HIV pada kelompok berisiko. Program tersebut dinilai menjadi langkah penting agar infeksi dapat diketahui sebelum berkembang menjadi AIDS.

Pada 2025, cakupan skrining HIV di Samarinda mencapai 43.568 orang atau sekitar 99,8 persen dari target Standar Pelayanan Minimal (SPM). Memasuki 2026, hingga pertengahan tahun sebanyak 19.577 orang telah menjalani pemeriksaan atau sekitar 45 persen dari target tahunan sebanyak 43.189 orang.

Selain meningkatkan cakupan skrining, Dinkes juga memperkuat layanan melalui Voluntary Counseling and Testing (VCT) Mobile yang menjangkau lokasi-lokasi dengan populasi berisiko, program Tri Eliminasi bagi ibu hamil untuk mendeteksi HIV, sifilis, dan hepatitis B, serta layanan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) bergerak bagi kelompok rentan.

Upaya lain yang dilakukan meliputi edukasi kepada pelajar dan masyarakat, penambahan jam pelayanan HIV di Puskesmas Palaran dan Puskesmas Temindung, penguatan laboratorium bergerak penyakit menular, hingga penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penanggulangan HIV/AIDS bersama DPRD Kota Samarinda.

Ismed menegaskan, keberhasilan pengendalian HIV tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menemukan kasus baru, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk melakukan tes sejak dini dan disiplin menjalani pengobatan.

“Jangan menunggu sampai muncul gejala berat. Pemeriksaan sejak awal akan membuka kesempatan lebih besar bagi penderita untuk hidup lebih lama dan tetap produktif,” pungkasnya.

Related posts

Penanganan Stunting di Samarinda Diminta Tetap Jadi Prioritas Meski Anggaran Diefisiensi

Rizki

Dinkes Samarinda Catat 2.211 Pasien HIV Masih Aktif Berobat hingga Mei 2026

Rizki

Rehabilitasi ODGJ Tak Lagi Sekadar Sosial, Kini Didukung Layanan Medis

Emmy Haryanti