infosatu.co
EKONOMI

Dampak Efisiensi, Anggaran Pariwisata Tersisa Rp400 Juta

Teks: ilustrasi aktivitas warga menenun Sarung Samarinda di sentra kerajinan Kampung Tenun yang menjadi salah satu destinasi wisata binaan Pemerintah Kota Samarinda. (AI)

Samarinda, Infosatu.co – Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah turut berdampak pada sektor pariwisata di Kota Samarinda. Salah satu konsekuensi yang harus dihadapi adalah berkurangnya jumlah tenaga pendamping destinasi wisata yang selama ini berperan dalam meningkatkan kualitas pengelolaan objek wisata dan mendorong pendapatan daerah.

Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Samarinda, Diana Pida Juliadi mengungkapkan keterbatasan anggaran menyebabkan ruang gerak program pembinaan destinasi wisata menjadi semakin sempit.

Menurutnya, alokasi anggaran bidang pariwisata yang sebelumnya mencapai sekitar Rp3,6 miliar kini mengalami penurunan drastis hingga tersisa sekitar Rp400 juta. Kondisi tersebut memaksa pemerintah melakukan penyesuaian terhadap sejumlah program yang telah berjalan.

“Perjalanan dinas, makan minum, sampai pameran ke luar kota banyak yang tidak dilaksanakan. Namun, festival budaya tetap kami upayakan agar tidak hilang,” ujar Diana, Jumat 19 Juni 2026.

Dampak lain dari pemangkasan anggaran tersebut adalah berkurangnya jumlah tenaga pendamping yang selama ini ditugaskan melakukan pembinaan di berbagai destinasi wisata. Jika sebelumnya terdapat empat orang pendamping, jumlah itu direncanakan menyusut menjadi dua orang pada tahun mendatang.

Padahal, program pendampingan dinilai cukup berperan dalam membantu pengelola destinasi mengembangkan daya tarik wisata sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan.

Sepanjang tahun ini, Disporapar Samarinda masih melaksanakan pembinaan terhadap empat destinasi wisata yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Wali Kota, yakni Desa Budaya Pampang, Bukit Steling, Kampung Tenun, dan Kampung Ketupat.

Pembinaan dilakukan selama sekitar lima bulan dengan melibatkan akademisi dari Politeknik Negeri Samarinda serta unsur Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI). Materi yang diberikan mencakup strategi pengelolaan destinasi, peningkatan pelayanan, hingga upaya menarik minat wisatawan.

“Kami melakukan pendampingan bagaimana cara menarik wisatawan, sekaligus mengenalkan potensi yang dimiliki masing-masing destinasi,” jelasnya.

Diana menjelaskan, setiap kawasan wisata memiliki karakteristik yang berbeda sehingga pendekatan pengembangannya juga disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing.

Di Kampung Tenun, misalnya, wisatawan tidak hanya datang untuk berkunjung tetapi juga mendapatkan pengalaman edukatif dengan menyaksikan secara langsung proses pembuatan Sarung Samarinda. Sementara di Kampung Ketupat, pengunjung dapat belajar membuat ketupat sekaligus menikmati kuliner khas masyarakat setempat.

Adapun Bukit Steling diarahkan sebagai destinasi wisata alam yang menawarkan panorama Kota Samarinda dari ketinggian. Selain itu, pembinaan juga diberikan kepada sektor pendukung seperti hotel dan guest house guna meningkatkan kualitas pelayanan serta kemampuan promosi.

Meski menghadapi keterbatasan anggaran, pemerintah tetap menilai program pembinaan destinasi memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Sejumlah objek wisata yang telah menerapkan sistem tiket masuk kini berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui setoran pajak sebesar 10 persen dari hasil penjualan tiket.

“Dengan adanya pendampingan, ada kemajuan di destinasi wisata dan itu ikut menyumbang PAD bagi kota,” katanya.

Karena itu, di tengah keterbatasan anggaran yang ada, Disporapar Samarinda akan memprioritaskan pengembangan kawasan wisata yang memiliki potensi besar dalam menghasilkan PAD. Salah satu yang menjadi perhatian adalah wisata susur Sungai Mahakam.

“Ke depan, pendampingan tidak hanya difokuskan pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga penyusunan strategi agar aktivitas wisata dapat berlangsung lebih rutin dan terhubung dengan sektor pendukung lain, termasuk perhotelan,” pungkasnya.

Related posts

Arus Penumpang Diproyeksikan Dongkrak Ekonomi Palaran, UMKM hingga Jasa Transportasi Berpeluang Tumbuh

Emmy Haryanti

Biaya Transportasi Melonjak Hampir 10 Persen, Jadi Pendorong Inflasi Kaltim pada Juli 2026

Emmy Haryanti

Masih Banyak Lapak Kosong, Perputaran Ekonomi Pasar Pagi Samarinda Belum Maksimal

Emmy Haryanti