Samarinda, Infosatu.co – Sarapan sering dianggap sebagai bagian penting untuk memulai aktivitas. Namun, makanan yang tersaji di meja makan belum tentu memiliki komposisi gizi yang sama, meski sama-sama dikonsumsi sebagai sarapan.
Gambaran tersebut terlihat dalam penelitian Fachruddin Perdana dan Prof. Hardinsyah dari Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB) berjudul Analisis Jenis, Jumlah, dan Mutu Gizi Konsumsi Sarapan Anak Indonesia.
Penelitian itu menggunakan data Riskesdas 2010 dengan melibatkan 40.437 anak usia 3–12 tahun dari 33 provinsi di Indonesia.
Dalam penelitian tersebut, nasi menjadi makanan yang paling banyak dikonsumsi saat sarapan.
Selain nasi, terdapat kangkung, telur, ikan, tempe, mi instan, tahu, roti, ayam, dan biskuit. Sementara untuk minuman, air putih, teh, susu, kopi, dan sirup menjadi lima jenis yang paling banyak dikonsumsi.
Temuan itu menarik karena menunjukkan bahwa menu sarapan masyarakat Indonesia cukup beragam.
Beberapa makanan bahkan kerap dianggap sebagai pilihan yang praktis atau sehat. Namun, kualitas sarapan tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan, melainkan juga jumlah dan kombinasi makanan yang dikonsumsi.
Berikut lima makanan yang perlu diperhatikan ketika menjadi bagian dari menu sarapan.
1. Roti
Roti kerap menjadi pilihan sarapan karena praktis dan mudah dikonsumsi. Namun, menyebut semua roti sebagai makanan dengan kualitas gizi yang sama tentu kurang tepat.
Jenis roti, bahan yang digunakan, hingga isian dapat membuat kandungan gizinya berbeda. Roti yang dikonsumsi bersama selai manis atau isian tinggi gula, misalnya, memiliki komposisi yang berbeda dengan roti yang dipadukan dengan sumber protein dan makanan lain.
Artinya, roti tetap bisa menjadi bagian dari sarapan. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang menyertainya dan seberapa banyak dikonsumsi.
2. Biskuit
Biskuit juga tercatat sebagai salah satu makanan yang cukup banyak dikonsumsi anak Indonesia saat sarapan dalam penelitian tersebut.
Bentuknya yang praktis membuat biskuit mudah menjadi pilihan ketika waktu sarapan terbatas. Namun, biskuit tidak otomatis dapat dianggap sebagai pengganti menu sarapan lengkap.
Kandungan dan komposisi setiap produk berbeda. Karena itu, biskuit lebih tepat dilihat sebagai salah satu bagian dari pola makan, bukan ukuran tunggal bahwa kebutuhan gizi saat sarapan sudah terpenuhi.
3. Mi instan
Mi instan masuk dalam daftar makanan yang banyak dikonsumsi saat sarapan. Temuan ini memperlihatkan bahwa faktor kepraktisan juga ikut membentuk kebiasaan makan masyarakat.
Mi instan memang mudah disiapkan, tetapi keberadaannya dalam menu sarapan tidak serta-merta menjadikannya pilihan yang lengkap secara gizi.
Komposisi sarapan tetap perlu dilihat secara keseluruhan. Jika mi menjadi makanan utama, keberadaan lauk atau bahan makanan lain dapat menjadi bagian yang menentukan kualitas menu tersebut.
4. Nasi
Nasi menjadi makanan yang paling banyak dikonsumsi saat sarapan dalam penelitian Perdana dan Hardinsyah. Ini sekaligus menunjukkan bahwa nasi tidak perlu ditempatkan sebagai makanan yang harus dihindari ketika sarapan.
Yang lebih penting adalah bagaimana nasi dikombinasikan dengan makanan lainnya.
Nasi yang disantap bersama telur, ikan, tempe, tahu, sayuran, atau sumber pangan lain memberikan gambaran sarapan yang berbeda dibandingkan nasi yang dikonsumsi tanpa pendamping yang cukup.
Dengan kata lain, kualitas sarapan tidak dapat dinilai hanya dari keberadaan nasi di atas piring.
5. Susu dan minuman pendamping
Susu termasuk minuman yang cukup banyak dikonsumsi saat sarapan dalam penelitian tersebut. Selain susu, teh, kopi, air putih, dan sirup juga menjadi minuman yang umum dikonsumsi.
Minuman sering dianggap sekadar pelengkap, padahal pilihan minuman juga menjadi bagian dari pola sarapan.
Karena itu, melihat sarapan hanya dari makanan padatnya belum cukup. Minuman yang menyertainya juga perlu diperhatikan, terutama ketika dikonsumsi secara rutin.
Penelitian tersebut pada akhirnya memberikan gambaran sederhana bahwa sarapan tidak hanya soal memilih satu makanan yang dianggap sehat.
Nasi, roti, biskuit, mi, maupun susu dapat berada dalam pola sarapan yang berbeda-beda, tergantung jumlah, pasangan makanan, dan keseluruhan menu yang dikonsumsi.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan itu juga menunjukkan bahwa kebiasaan sarapan sehari-hari sebenarnya sudah memiliki banyak pilihan makanan. Tantangannya adalah memastikan pilihan tersebut membentuk menu yang cukup dan beragam, bukan sekadar mengenyangkan.
Sarapan yang baik akhirnya tidak ditentukan oleh satu makanan yang diberi label “sehat”, tetapi oleh bagaimana makanan tersebut menjadi bagian dari keseluruhan pola makan.
