Samarinda, Infosatu.co – Rektor terpilih Universitas Mulawarman (Unmul) periode 2026-2030 Rudianto Amirta mengubah fokus program 100 hari pertamanya setelah melihat dinamika yang muncul pasca Pemilihan Rektor (Pilrek) Unmul 2026.
Alih-alih langsung mengejar seluruh agenda yang telah disusun sebelumnya, Rudianto menempatkan harmonisasi internal sebagai pekerjaan awal. Ia ingin mengakhiri fragmentasi di lingkungan kampus setelah kompetisi Pilrek berakhir.
Menurut Rudianto, rivalitas antarkandidat seharusnya berhenti setelah proses pemilihan selesai. Ia menegaskan dirinya akan menjadi payung bagi seluruh elemen Unmul, bukan hanya bagi kelompok yang mendukungnya.
“Bukan hanya pada kelompok yang memberikan dukungan ke saya, namun tentu pada semua bagian elemen dari Unmul,” kata Rudianto melaui zoom meeting bersama rekan-rekan media, Jumat 2 Oktober 2026.
Ia menyebut dirinya telah menemui Rektor Unmul saat ini, Abdunnur, setelah hasil pemilihan ditetapkan. Pertemuan tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari upaya mengakhiri kompetisi dan memulai proses transisi kepemimpinan.
“Saya berpikir bahwa rivalitas itu sudah berakhir. Pada saat pemilihan berakhir pun saya sudah mendatangi Pak Rektor, kami sudah bersalaman, menyatakan bahwa kita sudah selesai kompetisinya,” ujarnya.
Rudianto bahkan menargetkan persoalan fragmentasi internal dapat mulai diselesaikan sebelum dirinya resmi dilantik pada akhir Oktober 2026.
Ia mengaku masih melakukan komunikasi informal dengan sejumlah pihak, termasuk Abdunnur, untuk memastikan proses transisi berjalan secara baik.
“Saya upayakan agar kita bisa secara dewasa menyelesaikan tahapan transisi ini,” jelasnya.
Rudianto mengatakan posisi dirinya yang terpilih pada triwulan terakhir tahun anggaran membuat agenda 100 hari kerja harus disesuaikan.
Sebab, setelah dilantik, waktu yang tersisa hingga akhir 2026 relatif singkat. Pada periode tersebut, Unmul juga harus menyelesaikan berbagai kewajiban pelaporan, evaluasi program, hingga persiapan memasuki 2027.
Karena itu, ia ingin memastikan terlebih dahulu seluruh pekerjaan dan kewajiban institusi tidak terganggu oleh dinamika politik internal kampus pasca-Pilrek.
Ia mengatakan, salah satu kekhawatirannya adalah polemik pasca-Pilrek justru membuat pekerjaan akhir tahun dan kewajiban pelaporan Unmul terbengkalai.
Menurutnya, kondisi tersebut pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap penganggaran, pelaksanaan pendanaan, hingga dukungan pemerintah pusat terhadap perguruan tinggi.
Karena itu, sebelum masuk ke agenda besar kepemimpinan empat tahun, ia ingin memastikan Unmul tetap berada pada jalur kinerja dan pelaporan yang semestinya.
“Saya ingin bahwa Unmul tidak ketinggalan dalam reporting dan penilaian kinerja karena itu akan berdampak pada semua hal,” ungkapnya.
Selain harmonisasi, Rudianto menyebut evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola menjadi bagian penting dari 100 hari pertamanya.
Ia berencana melakukan evaluasi dan re-audit terhadap berbagai program serta meminta pendampingan dari kementerian untuk memperbaiki tata kelola universitas.
Pembenahan itu mencakup tata kelola keuangan, sumber daya manusia, hingga mekanisme kerja di lingkungan Unmul.
Rudianto mengatakan pendampingan kementerian dibutuhkan agar proses pembenahan dapat dilakukan lebih cepat dan tidak seluruhnya dikerjakan secara internal.
Ia juga menyoroti kebutuhan untuk mengevaluasi kembali berbagai persoalan yang selama ini berjalan di lingkungan universitas.
Menurutnya, Unmul perlu melakukan inventarisasi masalah dan menyusun penyelesaian agar kinerja institusi tidak tertinggal.
Setelah polemik Pilrek, Rudianto mengatakan salah satu pekerjaan penting lainnya adalah membangun kembali kepercayaan di lingkungan internal maupun eksternal Unmul.
Ia berharap tidak ada lagi pengelompokan berdasarkan kandidat dalam kehidupan kampus setelah proses pemilihan berakhir.
“Tidak ada lagi orang yang Rudi, tidak ada lagi orang yang Fahrul, tidak ada orang yang Abdunnur Semuanya sudah satu orang Unmul,” tegasnya.
Ia juga berharap pihak eksternal menghormati proses yang telah berlangsung, termasuk hak setiap kandidat untuk mengikuti tahapan pemilihan.
Rudianto menargetkan komunikasi dengan senat dan berbagai elemen kampus kembali diperbaiki setelah dinamika Pilrek yang menurutnya cukup tinggi.
“Termasuk tadi memperbaiki tata kelola, membangun kembali kepercayaan masyarakat kampus, masyarakat eksternal, kemudian memperbaiki komunikasi dengan senat dan lain-lain,” pungkasnya.
