Samarinda, Infosatu.co – Permintaan air tandon meningkat seiring krisis air yang terjadi di sejumlah wilayah Samarinda. Namun, meningkatnya pesanan belum otomatis membuat seluruh permintaan bisa dilayani.
Hendrik, seorang pengusaha jasa air tandon asal Damanhuri mengaku jumlah pesanan yang masuk kini lebih banyak dibanding kondisi normal. Pria yang telah menjalankan usaha tersebut sejak 2005 itu mengaku bisa menerima lima hingga enam telepon pesanan dalam sehari.
“Bisa sampai lima enam kali yang telepon sama saya. Tapi enggak sanggup saya,” ujarnya di Samarinda, Sabtu, 19 September 2026.
Meski usianya telah mencapai 74 tahun dan menuju 75 tahun, Hendrik masih mengemudikan sendiri mobil pengangkut air untuk mengantarkan pesanan pelanggan.
Ia mengatakan, pada kondisi normal dirinya hanya menerima sekitar tiga hingga empat pesanan dalam sehari. Namun, meningkatnya permintaan saat krisis air tidak selalu bisa dipenuhi karena pasokan air PDAM yang menjadi salah satu sumber airnya kini mengalir lebih kecil.
Hendrik biasanya mengambil air PDAM di kawasan Gunung Lingai. Menurutnya, kondisi debit air di lokasi tersebut kini membuat mobil pengangkut harus mengantre untuk mendapatkan pasokan.
“Bisa sampai empat lima mobil, habis sudah satu hari itu. Paling banyak lima mobil jatahnya,” kisahnya.
Ketika pasokan PDAM tidak mencukupi, Hendrik masih memiliki alternatif dengan mengambil air dari sumur bor di kawasan Perumahan Tepian, sekitar PM Noor. Ia menyebut pasokan dari sumur bor tersebut masih berjalan meski musim kemarau.
Namun, harga air dari sumber sumur bor mengalami kenaikan. Jika sebelumnya sekitar Rp30 ribu, kini ada sumber yang menjual Rp40 ribu untuk satu kali pengisian mobil, yakni 2 tandon yang masing-masing adalah 700 liter sehingga totalnya 1.400 liter.
“Kalau di PM Noor ada yang Rp30 ribu, ada yang Rp40 ribu. Yang Rp40 ribu itu bagus airnya, bisa buat minum,” jelasnya.
Sementara harga jual kepada pelanggan kini sekitar Rp125 ribu untuk satu mobil berkapasitas 1.400 liter. Sebelumnya, Hendrik menjual air dengan harga sekitar Rp100 ribu.
Meski sumber air berbeda, Hendrik mengatakan harga jual kepada pelanggan tetap sama. Ia tidak menaikkan harga lebih tinggi meski biaya mendapatkan air dari sumur bor bertambah.
“Enggak kita naikin, tetap saja Rp125 ribu,” tuturnya.
Hendrik biasanya melayani pengantaran di sekitar Damanhuri, perumahan di sekitarnya hingga Sempaja. Untuk pesanan dengan jarak terlalu jauh, ia memilih tidak mengambilnya karena mempertimbangkan jarak dan biaya operasional.
Hendrik juga menuturkan kondisi kekeringan kali ini berbeda dari pengalaman selama menjalankan usaha sejak 2005.
“Enggak sampai kayak gini krisisnya. Enggak sampai benar-benar krisis,” ungkapnya.
Ia berharap hujan segera turun dan mengisi kembali Bendungan Benanga yang menjadi sumber pasokan PDAM yang biasa digunakannya.
“Mudah-mudahan turun hujan, curah hujan datang, jadi bisa terisi Benanga. Karena kita tergantung di situ,” pungkasnya.
