Samarinda, Infosatu.co – Aktivitas pelayaran di Sungai Mahakam masih menghadapi persoalan kondisi alur. Muka air sungai yang belum kembali normal membuat sejumlah titik berpotensi mengalami pendangkalan, penyempitan, hingga perubahan dasar sungai.
Kondisi tersebut membuat KSOP Kelas I Samarinda masih memberlakukan imbauan kepada operator kapal untuk meningkatkan kewaspadaan. Kapal diminta mengurangi kecepatan dan tidak memaksakan pelayaran apabila kondisi alur tidak memungkinkan.
Persoalan keselamatan pelayaran juga bertambah dengan meningkatnya kabut asap dalam dua hari terakhir. Kondisi tersebut dapat membatasi jarak pandang nakhoda, sehingga kewaspadaan saat kapal bergerak di Sungai Mahakam perlu ditingkatkan.
Risiko tersebut menjadi perhatian karena sepanjang 2026 sejumlah insiden yang melibatkan tongkang di Sungai Mahakam juga terjadi.
Salah satunya tongkang batu bara yang menyerempet tongkang proyek PDAM di kawasan Teras Samarinda pada Juni lalu dan berujung pada sanksi administratif setelah investigasi KSOP menemukan kesalahan manuver di alur yang sempit.
Kepala Seksi Penjagaan, Patroli dan Penyidikan KSOP Kelas I Samarinda Capt Syahrun Asis mengatakan surat edaran terkait kondisi Sungai Mahakam yang surut masih berlaku.
“Beberapa bulan yang lalu ini kita sudah melihat sendiri bahwa kondisi Sungai Mahakam mengalami penyusutan, termasuk beberapa daerah yang sudah kering. Dari Kantor KSOP Kelas I Samarinda mengeluarkan surat imbauan kepada para pengguna jasa untuk mengurangi kecepatan dan berhati-hati,” ungkapnya saat ditemui usai upacara Hari Perhubungan Nasional, Kamis, 17 September 2026.
Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Edaran KSOP Kelas I Samarinda Nomor AL.308/4/31/KSOP.SMD/2026 tertanggal 18 Agustus 2026.
Operator kapal diminta meningkatkan kewaspadaan karena penurunan muka air berdampak terhadap kedalaman alur pelayaran, terutama pada titik yang mengalami pendangkalan, penyempitan, tikungan maupun perubahan dasar sungai.
Syahrun menegaskan, pengguna jasa diminta menunda pelayaran apabila kondisi alur tidak memungkinkan.
“Kalau memang tidak memungkinkan untuk melakukan pergerakan atau pelayaran, maka harap supaya ditunda. Jangan memaksakan kegiatan demi keselamatan kita bersama. Sampai sekarang surat edaran itu masih berlaku karena kondisi Sungai Mahakam masih surut,” ungkapnya.
Selain kondisi muka air, KSOP juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kabut asap.
Syahrun mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan asosiasi Indonesia National Shipowners’ Association (INSA) dan Indonesian Ship Agents Association (ISAA) untuk menyampaikan informasi kepada nakhoda kapal yang beroperasi di Sungai Mahakam dan sekitarnya.
“Kemarin kami sudah kerja sama dengan asosiasi INSA dan ISAA untuk menginformasikan kepada seluruh nakhoda kapal yang berlayar Sungai Mahakam atau sekitarnya agar supaya berhati-hati,” ungkapnya.
Koordinasi juga dilakukan dengan pihak terkait untuk membatasi aktivitas apabila kondisi jarak pandang sudah dinilai terlalu terbatas dan berisiko terhadap keselamatan pelayaran.
“Termasuk kami juga kerja sama dengan PIL Indo untuk tidak melayani pengolongan jika memang kondisi sangat terbatas dan membahayakan untuk keselamatan pelayaran,” pungkas Syahrun.
