infosatu.co
EKONOMI

Inflasi Kaltim 3,83 Persen, Transportasi dan Pangan Paling Menekan Dompet Warga

Teks: Ilustrasi aktivitas belanja masyarakat di tengah tekanan kenaikan harga kebutuhan pangan dan biaya transportasi yang turut mendorong inflasi Kaltim. (AI)

Samarinda, Infosatu.co – Tekanan terhadap pengeluaran masyarakat Benua Etam (Kaltim) masih terasa. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Kaltim pada Agustus 2026 mencapai 3,83 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Demikian BPS Kaltim dalam rilis website mereka.

Kenaikan harga tersebut terutama didorong oleh biaya transportasi serta kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kondisi ini menunjukkan tekanan inflasi tidak hanya terjadi pada satu jenis kebutuhan, tetapi menyebar ke berbagai pengeluaran rumah tangga.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,35 persen terhadap inflasi tahunan Kaltim. Secara tahunan, kelompok ini mengalami kenaikan harga hingga 10,55 persen.

Angkutan udara menjadi salah satu komoditas yang memberikan tekanan cukup besar dengan andil 0,55 persen. Sementara bensin menyumbang 0,54 persen terhadap inflasi.

Tekanan berikutnya berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau. Kelompok ini mengalami inflasi 4,06 persen dengan andil sebesar 1,22 persen.

Di dalam kelompok tersebut, daging ayam ras menjadi salah satu komoditas yang cukup berpengaruh dengan andil inflasi 0,24 persen. Sigaret kretek mesin juga memberikan andil sebesar 0,16 persen.

Kenaikan harga juga terlihat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami inflasi 9,96 persen. Kelompok ini memberikan andil 0,69 persen terhadap inflasi Kaltim.

Emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang paling dominan dalam kelompok tersebut dengan andil inflasi mencapai 0,57 persen.

Kondisi berbeda terjadi pada sejumlah komoditas yang justru membantu menahan laju inflasi. Bawang merah memberikan andil deflasi 0,16 persen, disusul tomat 0,04 persen, ikan gabus 0,03 persen dan bahan bakar rumah tangga 0,03 persen.

Dari sisi wilayah, Samarinda mencatat inflasi tahunan tertinggi di antara empat kabupaten/kota yang menjadi cakupan penghitungan IHK Kaltim. Inflasi Samarinda mencapai 4,03 persen.

Sementara Kabupaten Berau mencatat inflasi terendah sebesar 3,31 persen.

Secara bulanan, inflasi Kaltim pada Agustus 2026 sebenarnya hanya berada di level 0,10 persen. Namun secara kumulatif sejak Januari hingga Agustus 2026, inflasi telah mencapai 2,64 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap daya beli masyarakat tidak hanya berasal dari kenaikan harga kebutuhan pangan. Biaya mobilitas, harga energi, hingga kebutuhan personal juga menjadi bagian dari pengeluaran yang ikut meningkat.

Bagi rumah tangga, kombinasi kenaikan sejumlah kebutuhan tersebut membuat pengelolaan belanja menjadi semakin penting, terutama ketika komoditas yang mengalami kenaikan merupakan kebutuhan rutin masyarakat.

Related posts

Harga Minyak Dunia Tembus US$100, BBM Subsidi Belum Naik

Emmy Haryanti

Produksi Lokal Baru Penuhi 58 Persen, Kaltim Kejar Swasembada Beras

Emmy Haryanti

BIFF 2026 Bawa Wastra Kaltim dari Panggung Runway Menuju Pasar Dunia

Rizki