Samarinda, Infosatu.co – Upaya menekan angka stunting di Kota Samarinda mulai diarahkan pada kebiasaan keluarga dalam menjaga kesehatan anak sejak usia dini.
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menilai pencegahan tidak cukup hanya melalui pemantauan pertumbuhan, tetapi juga harus menyentuh kesehatan gigi, pemenuhan gizi, serta pola asuh sehari-hari.
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri mengatakan persoalan stunting memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar kondisi fisik anak. Gangguan pertumbuhan dapat berkaitan dengan perkembangan, kesehatan, kemampuan belajar hingga kualitas hidup anak di masa mendatang.
Karena itu menurutnya, intervensi perlu dilakukan sedini mungkin dan dimulai dari lingkungan keluarga.
“Pencegahan harus dilakukan sedini mungkin. Kesehatan gigi dan mulut juga penting, karena berpengaruh terhadap kemampuan anak makan dan memperoleh asupan gizi yang cukup,” kata Saefuddin belum lama ini.
Ia menekankan, kesehatan gigi anak tidak boleh menunggu sampai muncul keluhan. Orang tua perlu membangun kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari, membatasi makanan dan minuman tinggi gula, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Jangan menunggu sampai anak merasakan sakit untuk memeriksakan gigi dan kesehatannya,” tegasnya.
Penguatan pencegahan tersebut dilakukan melalui Gerakan Menyikat Gigi Bersama Ibu dan Anak (Garasi Anak) serta Gerakan Sayang Kekanakan (Gasakkan). Kedua program ini memasukkan edukasi kesehatan ke dalam aktivitas Posyandu agar intervensi terhadap anak dan ibu dapat dilakukan lebih dekat dengan keluarga.
Garasi Anak yang digagas Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Samarinda mencakup deteksi dini kesehatan gigi, edukasi, praktik menyikat gigi bersama hingga peningkatan kemampuan kader posyandu.
Sementara Gasakkan yang digagas Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Samarinda diarahkan pada pendampingan ibu dan anak, mulai dari edukasi ASI eksklusif dan kesehatan reproduksi hingga layanan pijat bayi serta pijat punggung bagi ibu hamil.
Pada 2026, kedua gerakan tersebut menyasar delapan lokus stunting, yakni Tenun, Baqa, Sidodamai, Sempaja Utara, Teluk Lerong Ulu, Loa Buah, Temindung Permai dan Pasar Pagi.
Program yang berlangsung September hingga Desember 2026 itu mencakup 89 posyandu dengan sasaran 2.790 balita dan 154 ibu hamil.
Saefuddin berharap intervensi tersebut tidak berhenti sebagai program sementara. Edukasi kesehatan, pemantauan tumbuh kembang, pemenuhan gizi dan pemeriksaan anak diharapkan menjadi kebiasaan yang terus dilakukan keluarga melalui posyandu.
“Samarinda menargetkan keterlibatan kader, tenaga kesehatan dan keluarga dapat memperkuat pencegahan stunting dari tingkat paling dasar yakni rumah tangga,” tandasnya.
