Samarinda, Infosatu.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mencatat sekitar 130 titik kebakaran lahan hingga kemarin, Selasa, 1 September 2026 sore. Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 220 hektare.
Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso mengatakan seluruh titik yang terdata tersebut telah berhasil dipadamkan. Penanganan melibatkan BPBD, Damkar, relawan, PMI, masyarakat, kelurahan hingga kecamatan.
“Sekitar 130 titik panas, titik api ya, sampai dengan kemarin sore. Luasnya kurang lebih 220 hektare. Tapi perlu saya sampaikan di sini bahwa semua titik itu, 130 titik itu, semua bisa dipadamkan,” ujarnya usai monitoring dan evaluasi pelaksanaan penanganan darurat di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana, Gedung BPBD Kota Samarinda, Jalan Sentosa Dalam, Rabu, 2 September 2026.
Meski seluruh titik telah dipadamkan, BPBD tetap bersiaga karena kebakaran masih berpotensi kembali terjadi. Terlebih, kondisi setiap lokasi berbeda dan tidak semuanya mudah dijangkau petugas.
Suwarso menjelaskan, salah satu kendala yang dihadapi dalam pemadaman adalah keterbatasan akses menuju sumber air, terutama pada lokasi yang berada cukup jauh dan sulit dijangkau.
Menurutnya, sejumlah sumber air seperti bekas tambang maupun embung dapat dimanfaatkan untuk penanganan kebakaran. Namun, persoalan muncul ketika titik api berada di wilayah yang tidak memiliki titik air dan berada di area terdalam.
“Yang paling sulit itu kalau tidak ada titik air dan daerah terdalam. Itu kita yang kadang-kadang sudah membuka selang roll, 20 sampai 30 roll itu nggak menjangkau,” jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, petugas terkadang harus menahan pemadaman sementara sambil tetap memantau api agar tidak meluas. Setelah kondisi memungkinkan, pemadaman kembali dilakukan.
“Ini semata-mata strategi, bukan pembiaran. Dan alhamdulillah selama ini sih bisa kita padamkan semuanya,” tuturnya.
Kondisi medan juga menjadi tantangan. Suwarso mencontohkan wilayah Makroman yang memiliki akses berat bagi kendaraan roda empat. Kondisi itu menyulitkan petugas ketika harus membawa air menuju titik kebakaran.
Sementara di Betapus, petugas menghadapi medan yang dipenuhi area rawa dan rerumputan tinggi. Bahkan, jarak pandang antarpersonel dapat terbatas ketika berada di lokasi.
“Kalau teman-teman ke lapangan mungkin kita tidak bisa melihat teman-teman yang di depan. Tapi kita tahu kalau ada orang di depan, dengan selang yang bergerak ini aja yang kita telusuri. Tapi fisik orangnya nggak kelihatan,” ungkapnya.
Lama pemadaman pun bergantung pada kondisi lokasi. Suwarso menyebut proses pemadaman berlangsung sekitar 30 menit hingga lima jam, dengan sejumlah titik membutuhkan waktu lebih lama karena luasan maupun medan yang sulit.
Untuk sebaran kejadian, Bantuas tercatat mengalami 16 kejadian. Sementara berdasarkan wilayah kecamatan, Palaran disebut menjadi wilayah dengan kejadian kebakaran lahan tertinggi.
Suwarso memastikan kesiapsiagaan tetap dilakukan untuk mengantisipasi kebakaran kembali terjadi, meski seluruh titik yang terdata hingga saat ini telah berhasil dipadamkan.
