Samarinda, Infosatu.co – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti mengatakan penyediaan air bersih menjadi salah satu perhatian dalam monitoring penanganan kekeringan di Samarinda. Berdasarkan laporan PDAM, seluruh instalasi pengolahan air (IPA) telah kembali berfungsi, kecuali Bantuas yang masih beroperasi secara on-off karena kadar klorida berada di atas batas aman.
“Kalau kami tadi menyoroti terutama tentang penyediaan air bersih. Karena beberapa hari yang lalu itu ada on-off IPA. Jadi kalau misalnya kadar kloridanya itu di atas 250, maka untuk sementara dihentikan,” ujarnya usai monitoring dan evaluasi pelaksanaan penanganan darurat di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana, Gedung BPBD Kota Samarinda, Jalan Sentosa Dalam, Rabu, 2 September 2026.
Ia menerangkan, kondisi tersebut juga perlu disosialisasikan kepada warga Bantuas. Pasalnya, terdapat permintaan agar IPA tetap dioperasikan ketika kadar klorida berada sedikit di atas batas aman karena akses suplai air bersih ke wilayah tersebut cukup terkendala.
“Karena akses ke sana untuk suplai air bersih itu agak terkendala. Karena lokasi gitu ya. Nah, jadi IPAL tetap dioperasikan tapi dengan syarat tidak digunakan untuk konsumsi, misal untuk minum dan memasak. Jadi untuk MCK saja gitu,” terangnya.
Penanganan penyediaan air bersih tersebut dilakukan di tengah masa tanggap darurat kekeringan Kota Samarinda yang ditetapkan Wali Kota sejak 25 Agustus hingga 7 September 2026.
Selain penanganan di lapangan, Neneng menyebut rapat monitoring dan evaluasi juga membahas pemanfaatan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp2,5 miliar. Anggaran tersebut sebelumnya telah disusun dalam rencana kebutuhan belanja (RKB).
“Rapat ini dilaksanakan untuk pemanfaatan dana BTT yang kemarin sudah kita susun, rencana RKB-nya gitu ya, nanti bagaimana cara penggunanya, kemudian pertanggung jawabannya semaksimal mungkin untuk penanganan kekeringan ini,” tuturnya.
Neneng mengaku BTT tersebut diperuntukkan bagi seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) yang terlibat dalam tim penanganan kekeringan, termasuk hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
Ia menambahkan, upaya mitigasi telah dilakukan Pemkot Samarinda sebelum masa tanggap darurat ditetapkan.
“Kalau upaya sudah dari kemarin, sebelum ditetapkan masa tanggap darurat itu juga kami sudah memitigasi apa-apa yang perlu kita antisipasi terkait dengan masalah kekeringan ini,” pungkasnya.
