Samarinda, Infosatu.co β Pertumbuhan ekonomi Kota Samarinda yang mencapai 8,66 persen belum otomatis menghapus persoalan pengangguran. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda pun mengandalkan strategi pelatihan tenaga kerja berbasis kebutuhan industri untuk memperbesar peluang masyarakat masuk ke dunia kerja.
Strategi tersebut dipaparkan Wali Kota Samarinda Andi Harun saat mengikuti penilaian presentasi kepala daerah dalam rangka Apresiasi Kinerja Pemerintah Daerah pada dimensi penurunan tingkat pengangguran bersama tim penilai Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Tempo belum lama ini.
Menurut Andi Harun, tantangan ketenagakerjaan masih menjadi perhatian pemerintah meski sejumlah indikator pembangunan menunjukkan tren positif. Samarinda sebelumnya mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Kalimantan sebesar 8,66 persen.
Di sisi lain, angka kemiskinan juga mengalami penurunan dari 4,30 persen pada 2024 menjadi 3,45 persen pada 2025.
Namun, persoalan pengangguran tetap membutuhkan strategi khusus, terutama di tengah perubahan struktur ekonomi Kota Samarinda yang dalam beberapa tahun terakhir mulai bergeser dari ketergantungan terhadap sektor pertambangan menuju konstruksi, perdagangan dan jasa.
Andi Harun mengatakan perubahan tersebut harus diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia agar masyarakat lokal mampu mengisi kebutuhan tenaga kerja yang muncul dari pertumbuhan sektor-sektor baru.
Pemkot Samarinda pun menerapkan strategi ketenagakerjaan berbasis kebutuhan pasar atau market driven. Pemerintah terlebih dahulu memetakan kebutuhan tenaga kerja dari dunia usaha dan industri sebelum menyesuaikannya dengan program pelatihan.
βIni menunjukkan arah pembangunan yang kita jalankan sudah berada di jalur yang tepat,β ujar Andi Harun.
Salah satu contoh penerapan strategi tersebut terlihat saat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai meningkatkan kebutuhan tenaga kerja di berbagai bidang.
Pemkot Samarinda merespons kebutuhan tenaga welder dan pekerja jasa dengan membuka pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) serta lembaga profesional.
“Hasilnya tingkat serapan tenaga kerja dari program pelatihan itu disebut mencapai lebih dari 90 persen,” ungkapnya
Dalam upaya menekan pengangguran, Pemkot Samarinda juga mencatat sejumlah capaian program ketenagakerjaan. Perencanaan tenaga kerja daerah mencapai realisasi 93,13 persen, sementara pelatihan kerja dan produktivitas tenaga kerja mencapai 97,07 persen.
Program penempatan tenaga kerja terealisasi sebesar 95,9 persen, sedangkan program hubungan industrial mencapai 98,76 persen.
Selain sektor ketenagakerjaan, sejumlah indikator pembangunan lainnya juga menunjukkan peningkatan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Samarinda naik dari 82,81 pada 2024 menjadi 83,53 pada 2025 dan berada di atas rata-rata Provinsi Kalimantan Timur.
Meski demikian, Andi Harun mengakui penanganan pengangguran masih perlu diperkuat. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah memperluas jangkauan program melalui peningkatan alokasi anggaran.
“Persoalan pengangguran tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada Dinas Tenaga Kerja. Kolaborasi lintas sektor, mulai dari dunia pendidikan, industri hingga perangkat daerah lainnya, diperlukan agar penciptaan tenaga kerja terampil dapat berjalan sejalan dengan kebutuhan pasar,” pungkasnya.
