Samarinda, Infosatu.co – Luas lahan yang terbakar di Kalimantan Timur (Kaltim) mencapai 1.595,81 hektare sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Data Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat terdapat 547 kejadian kebakaran di 10 kabupaten/kota.

Dari total luasan tersebut, wilayah terdampak terbesar berada di Kutai Kartanegara dengan 480,38 hektare dari 53 kejadian. Disusul Kutai Barat dengan 383,67 hektare dari 77 kejadian dan Paser dengan 358,93 hektare dari 151 kejadian.
Sementara itu, Samarinda mencatat 91 kejadian dengan luas terdampak 126,26 hektare. Kemudian Berau 49 kejadian seluas 102,94 hektare, Kutai Timur 33 kejadian seluas 57,75 hektare, dan Penajam Paser Utara (PPU) 50 kejadian seluas 51,54 hektare.
Adapun Balikpapan mencatat 22 kejadian dengan luas 14,74 hektare, Bontang 10 kejadian seluas 13,51 hektare, serta Mahakam Ulu 11 kejadian dengan luas 6,10 hektare.
Secara keseluruhan, kebakaran paling banyak terjadi pada kawasan lahan non-hutan. Selain itu, terdapat kebakaran yang berdampak pada kawasan hutan dan perkebunan.
Kondisi tersebut berlangsung ketika Kaltim memasuki periode puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Selain data kejadian kebakaran, BPBD juga mencatat peningkatan sebaran titik panas di sejumlah wilayah.
Pada 26 Agustus 2026 saja, terdeteksi 679 titik panas di Kaltim. Sebaran terbanyak berada di Paser dengan 284 titik, disusul Kutai Kartanegara 110 titik, Berau 109 titik, dan Kutai Timur 100 titik.
Titik panas juga terdeteksi di Kutai Barat sebanyak 52 titik, PPU 11 titik, Balikpapan 5 titik, Bontang 4 titik, Mahakam Ulu 3 titik, serta Samarinda 1 titik.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan menuturkan tingginya potensi Karhutla membuat pemantauan terhadap titik panas dan kejadian kebakaran dilakukan secara berkelanjutan.
“Kita pantau 24 jam, terutama terhadap informasi sebaran titik panas atau hotspot dan kejadian karhutla. Kami juga berkolaborasi dengan mitra kebencanaan seperti BMKG dan Kementerian Kehutanan,” jelas Buyung saat memberikan pemaparan di Diskominfo Kaltim, Kamis, 27 Agustus 2026.
Selain pemantauan, BPBD Kaltim menyiagakan personel Tim Reaksi Cepat (TRC) beserta sarana dan prasarana penanganan karhutla. Mobilisasi dilakukan menyesuaikan perkembangan kejadian di lapangan.
“Personel dan sarana prasarana kami siagakan dan dapat dimobilisasi apabila dibutuhkan. Jadi respons akan disesuaikan dengan perkembangan kejadian karhutla di lapangan,” kata Buyung.
BPBD Kaltim juga mendistribusikan logistik kebencanaan kepada BPBD kabupaten/kota untuk mendukung penanganan apabila terjadi kebakaran.
“Terkait kesiapsiagaan, kami koordinasi dengan pemerintah daerah, relawan, komunitas dan instansi terkait terus kami tingkatkan, khususnya di wilayah yang memiliki potensi Karhutla,” ujarnya.
Selain penanganan di lapangan, BPBD Kaltim menyiapkan sejumlah langkah lanjutan, mulai dari penguatan koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, penyusunan rencana kontingensi (Renkon) karhutla hingga pelaksanaan pelatihan simulasi dan Tabletop Exercise (TTX).
Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran selama periode kemarau, terutama di tengah tingginya sebaran titik panas di sejumlah wilayah Kaltim.
“Personel dan sarana prasarana kami siagakan dan dapat dimobilisasi apabila dibutuhkan. Jadi respons akan disesuaikan dengan perkembangan kejadian karhutla di lapangan,” tutup Buyung.
