Samarinda, Infosatu.co – Rasa malas bisa datang kepada siapa saja. Ada kalanya seseorang tahu pekerjaan harus diselesaikan, memiliki waktu yang cukup, bahkan memahami manfaatnya, tetapi tetap memilih menunda. Bukan selalu karena tidak mampu, melainkan karena tidak menemukan alasan yang cukup kuat untuk mulai bergerak.
Karena itu, melawan rasa malas tidak selalu harus dimulai dengan memaksa diri bekerja lebih keras. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah kembali mengingat tujuan dan alasan mengapa sesuatu perlu dilakukan.
Memiliki tujuan membuat seseorang memiliki arah. Sementara alasan yang kuat dapat menjadi pengingat ketika semangat mulai menurun.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran James Clear dalam buku Atomic Habits. Clear menjelaskan bahwa perubahan perilaku tidak hanya berkaitan dengan hasil yang ingin dicapai, tetapi juga dengan identitas dan kebiasaan yang dibangun seseorang.
Menurutnya, perubahan yang bertahan lama dapat dimulai dengan melihat diri sebagai orang seperti apa yang ingin dibentuk, kemudian membuktikannya melalui tindakan-tindakan kecil.
Artinya, daripada terus mengatakan, “Saya harus rajin,” seseorang dapat mengubah cara berpikir menjadi, “Saya ingin menjadi orang yang konsisten.” Dari sana, tindakan kecil seperti membaca beberapa halaman, menyelesaikan satu pekerjaan, berolahraga sebentar, atau belajar selama 15 menit menjadi bentuk pembuktian terhadap tujuan tersebut.
Mulai dari Pertanyaan “Mengapa?”
Salah satu cara sederhana untuk menemukan kembali dorongan bergerak adalah bertanya kepada diri sendiri: Mengapa saya melakukan ini?
Simon Sinek melalui Start with WHY memperkenalkan gagasan bahwa alasan atau tujuan di balik suatu tindakan memiliki peran penting dalam mendorong seseorang untuk bertindak. Ia menyebut WHY sebagai tujuan, alasan, atau keyakinan yang menjadi dasar seseorang melakukan sesuatu.
Pertanyaan tersebut bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seseorang malas belajar, misalnya, pertanyaannya bukan hanya “Kenapa saya harus belajar?”, tetapi juga “Apa yang ingin saya capai dari belajar ini?”
Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang. Ada yang ingin mendapatkan nilai lebih baik, memperoleh pekerjaan, meningkatkan kemampuan, membanggakan orang tua, atau sekadar ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.
Ketika alasan tersebut terasa bermakna, pekerjaan yang sebelumnya terasa sebagai beban dapat memiliki tujuan yang lebih jelas.
Tujuan Besar Perlu Dipecah Menjadi Langkah Kecil
Memiliki tujuan saja belum tentu cukup. Tujuan yang terlalu besar justru bisa membuat seseorang merasa kewalahan.
Dalam Atomic Habits, James Clear menekankan pentingnya membangun kebiasaan melalui perubahan kecil dan sistem yang mendukung perilaku tersebut. Fokusnya bukan hanya pada target akhir, tetapi pada proses yang dilakukan secara konsisten.
Misalnya, seseorang ingin membaca 12 buku dalam setahun. Target tersebut dapat terasa berat jika langsung membayangkan seluruh buku yang harus diselesaikan.
Namun, target tersebut bisa diubah menjadi membaca lima atau 10 halaman setiap hari. Langkahnya menjadi lebih ringan, tetapi jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan kecil tersebut tetap membawa seseorang mendekati tujuan besarnya.
Hal serupa berlaku untuk pekerjaan, olahraga, belajar, maupun berbagai target pribadi lainnya.
Jangan selalu menunggu motivasi besar untuk memulai. Buat langkah pertama menjadi cukup kecil sehingga mudah dilakukan.
Motivasi Tidak Selalu Berasal dari Hadiah
Daniel H. Pink dalam Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us menjelaskan bahwa motivasi manusia tidak hanya bergantung pada hadiah atau hukuman. Ia mengidentifikasi tiga unsur penting dalam motivasi yang bertahan lama, yaitu autonomy, mastery, dan purpose—kemandirian, keinginan untuk menjadi lebih baik, dan tujuan.
Pandangan tersebut menunjukkan mengapa seseorang bisa tetap berusaha meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan langsung.
Seseorang yang belajar karena ingin menguasai suatu keterampilan, misalnya, memiliki dorongan yang berbeda dengan orang yang belajar hanya karena takut mendapat hukuman.
Ketika aktivitas yang dilakukan terasa memiliki makna, dorongan untuk menjalaninya tidak sepenuhnya bergantung pada suasana hati.
Ingat Tujuan Ketika Hasil Belum Terlihat
Rasa malas juga sering muncul ketika usaha yang dilakukan belum menghasilkan perubahan yang terlihat.
Seseorang sudah belajar berhari-hari tetapi belum merasa pintar. Sudah berolahraga tetapi perubahan tubuh belum tampak. Sudah bekerja keras tetapi hasil yang diharapkan belum datang.
Pada titik seperti ini, kemampuan untuk tetap berjalan menjadi penting.
Angela Duckworth dalam Grit menggambarkan grit sebagai perpaduan antara passion atau gairah dan perseverance atau ketekunan terhadap tujuan jangka panjang. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga kemampuan untuk mempertahankan usaha terhadap sesuatu yang dianggap penting.
Namun, ketekunan bukan berarti memaksakan diri tanpa batas. Duckworth juga menekankan bahwa grit bukan satu-satunya faktor keberhasilan; lingkungan, dukungan, mentor, dan kondisi sekitar juga memiliki pengaruh.
Karena itu, ketika merasa malas, seseorang tidak harus langsung menyalahkan dirinya sendiri. Bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan sekadar kemauan, melainkan tujuan, cara bekerja, lingkungan, atau langkah yang digunakan.
Buat Alasan yang Benar-Benar Personal
Tujuan akan lebih mudah dipertahankan jika alasan di baliknya benar-benar bermakna bagi diri sendiri.
Menjadi kaya, sukses, terkenal, atau memiliki pekerjaan tertentu mungkin terdengar menarik. Namun, seseorang perlu bertanya lebih jauh: “Untuk apa saya menginginkan semua itu?”
Bisa jadi jawabannya adalah ingin memiliki kehidupan yang lebih tenang, membantu keluarga, memiliki kebebasan menentukan pilihan, membuktikan kemampuan diri, atau memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang yang dicintai.
Alasan semacam inilah yang dapat menjadi pengingat ketika motivasi sedang turun.
Pada akhirnya, melawan rasa malas bukan berarti harus selalu berada dalam kondisi bersemangat. Ada hari ketika seseorang tetap merasa lelah, bosan, atau tidak ingin melakukan apa pun.
Yang penting adalah memiliki alasan untuk kembali bergerak.
Tujuan memberikan arah. Kebiasaan membantu menjaga langkah. Sementara alasan yang kuat membuat seseorang memiliki sesuatu untuk diperjuangkan ketika perjalanan mulai terasa berat.
Jadi, ketika rasa malas datang, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “Bagaimana supaya saya bisa lebih rajin?”, melainkan “Untuk apa saya melakukan ini, dan kehidupan seperti apa yang ingin saya bangun?”
Dari jawaban itulah, langkah kecil untuk bergerak bisa dimulai.
