infosatu.co
EKONOMI

Lima Hub Logistik Diusulkan untuk Atasi Distribusi Pangan Kaltim

Teks: Ilustrasi di pelabuhan saat bongkar muat bahan pangan. (AI)

Samarinda, Infosatu.co — Tingginya biaya distribusi dan sulitnya akses menuju sejumlah wilayah pedalaman menjadi salah satu hambatan dalam memperkuat ketahanan pangan Kalimantan Timur (Kaltim).

Untuk mengatasi persoalan tersebut, lima hub logistik regional diusulkan sebagai bagian dari penguatan sistem distribusi pangan daerah.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul) Prof Dr Bernatal Saragih mengatakan ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Pangan yang tersedia harus dapat diakses masyarakat dengan biaya dan waktu distribusi yang efisien.

Menurutnya, kondisi geografis Kaltim menjadi tantangan tersendiri. Jarak antardaerah yang jauh dan keterbatasan akses transportasi membuat distribusi pangan menjadi mahal, terutama menuju wilayah pedalaman.

“Kaltim memang memiliki indeks ketahanan pangan yang tinggi, tetapi disparitas antarkabupaten/kota masih lebar,” ujarnya.

Karena itu, ia mengusulkan lima hub logistik regional yang dapat menjadi titik penghubung antara sentra produksi dengan wilayah konsumen.

Sistem tersebut diharapkan mengintegrasikan berbagai jalur transportasi, mulai dari sungai, jalan nasional, pelabuhan hingga bandara. Dengan konektivitas yang terintegrasi, distribusi hasil pertanian dari daerah produksi diharapkan tidak lagi berjalan secara terpisah-pisah.

Gagasan tersebut menjadi semakin penting seiring berkembangnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Pertumbuhan kawasan ibu kota baru diperkirakan meningkatkan kebutuhan pangan sekaligus membuka pasar yang lebih besar bagi petani Kaltim.

Bernatal mengingatkan IKN dapat memberikan dampak positif bagi sektor pangan apabila produksi dan distribusi lokal diperkuat. Sebaliknya, peningkatan kebutuhan tanpa kesiapan sistem pangan dapat menjadi beban tambahan bagi daerah.

Wakil Ketua Umum Bidang Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim, Lani Tanujaya mengatakan, Kaltim masih mengalami defisit sekitar 170 ribu ton beras per tahun dan masih mengandalkan pasokan dari luar daerah.

Namun, sejumlah komoditas menunjukkan peluang pengembangan. Produksi jagung Kaltim, misalnya, meningkat dari 3.955 ton pada 2024 menjadi 10.290 ton pada 2025.

Peningkatan produksi harus dibarengi sistem distribusi yang mampu menghubungkan petani dengan pasar. Tanpa itu, kenaikan produksi belum tentu memberikan manfaat maksimal bagi petani maupun konsumen.

“Penguatan hub logistik regional  dinilai dapat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun rantai pasok pangan Kaltim yang lebih terintegrasi, sekaligus mempersiapkan daerah menghadapi meningkatnya kebutuhan pangan di sekitar IKN,” tandasnya.

Related posts

IKN Bisa Jadi Katalisator atau Beban bagi Ketahanan Pangan Kaltim?

Emmy Haryanti

Kaltim Masih Defisit Beras 170 Ribu Ton, Ketahanan Pangan Diuji di Tengah Pertumbuhan IKN

Emmy Haryanti

Konsep Pasar Pagi Dievaluasi, DPRD Soroti Fungsi Ekonomi yang Belum Optimal

Emmy Haryanti