Samarinda, Infosatu.co — Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi persoalan serius dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok. Di tengah pertumbuhan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang diproyeksikan meningkatkan kebutuhan pangan, provinsi Kaltim masih mengalami defisit sekitar 170 ribu ton beras setiap tahun dan bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Wakil Ketua Umum Bidang Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Lani Tanujaya mengatakan persoalan tersebut perlu segera dijawab karena kebutuhan pangan Kaltim berpotensi semakin besar seiring perkembangan IKN.
Menurutnya, Kaltim tidak cukup hanya menjadi wilayah yang menerima dampak pertumbuhan ekonomi dari IKN. Daerah itu harus mampu meningkatkan kapasitas produksi pangan agar kebutuhan masyarakat dan penduduk baru dapat dipenuhi dari sumber lokal.
“Pertanyaannya, apakah Kaltim hanya akan menjadi penonton, atau mampu menjadi pemasok utama kebutuhan pangan IKN?” kata Lani.
Berbeda dengan komoditas beras, produksi jagung Kaltim justru menunjukkan peningkatan signifikan. Produksi jagung tercatat naik dari 3.955 ton pada 2024 menjadi 10.290 ton pada 2025 atau meningkat lebih dari 160 persen.
Lani menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian Kaltim memiliki peluang besar untuk berkembang apabila produksi petani terhubung dengan kepastian pasar.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Unmul Prof Dr Bernatal Saragih mengatakan ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah produksi. Akses masyarakat terhadap pangan, pemanfaatan serta stabilitas pasokan juga menjadi bagian penting yang harus diperkuat.
Menurutnya, indeks ketahanan pangan Kaltim memang tergolong tinggi. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kesenjangan antardaerah, terutama karena persoalan biaya logistik dan sulitnya akses menuju sejumlah wilayah pedalaman.
“IKN bisa menjadi katalisator, tapi juga bisa menjadi beban tambahan, tergantung apakah produksi dan distribusi lokal kita diperkuat atau tidak,” ungkapnya.
Karena itu, penguatan produksi pangan dinilai perlu berjalan beriringan dengan pembenahan distribusi dan perlindungan lahan pertanian.
“Ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dikhawatirkan menjadi persoalan apabila kebutuhan pangan meningkat lebih cepat dibanding kemampuan produksi lokal,” terangnya.
Bagi Kaltim, pertumbuhan IKN akhirnya bukan hanya persoalan pembangunan kawasan baru, tetapi juga ujian terhadap kemampuan daerah menyediakan pangan secara mandiri.
