Samarinda, Infosatu.co – Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai membayangi sektor pertanian di Kota Samarinda. Sekitar 50 hektare lahan pertanian di kawasan Serayu, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara berpotensi gagal panen apabila dalam sepekan ke depan tidak mendapat pasokan air yang cukup.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda Suwarso mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Antisipasi El Nino Ekstrem bersama sejumlah perangkat daerah.
Menurutnya, keterbatasan air dapat berdampak pada dua tahap sekaligus, yakni saat petani hendak memulai penanaman maupun ketika tanaman sudah berada dalam masa pertumbuhan.
“Gagal tanam itu ketika air sudah tidak ada atau terbatas, sehingga tidak bisa menanam padahal benihnya sudah tumbuh. Kalau gagal panen, sudah menanam tetapi kekurangan sumber air,” ujar Suwarso, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia menyebut kondisi di kawasan Serayu saat ini menjadi perhatian karena terdapat sekitar 50 hektare lahan yang membutuhkan pasokan air.
Jika dalam satu pekan ke depan tidak turun hujan atau tidak ada upaya penyiraman alternatif, lahan tersebut berisiko mengalami gagal panen.
“Update terakhir yang saya dapat di daerah Serayu itu sekitar 50 hektare. Kalau dalam satu pekan ke depan tidak dapat hujan atau dengan sistem rekayasa penyiraman yang lain, mereka gagal panen,” katanya.
Pemerintah Kota Samarinda kini masih melakukan pendataan terhadap lahan pertanian dan perkebunan yang berpotensi terdampak kekeringan. Data tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan bentuk dukungan yang dapat diberikan kepada petani.
Suwarso mengatakan kebutuhan dari masing-masing perangkat daerah nantinya akan dihimpun dan dilaporkan kepada Wali Kota Samarinda. Bantuan dapat diarahkan pada penggunaan peralatan yang dimiliki pemerintah maupun dukungan melalui kolaborasi dengan pihak lain.
“Dari masing-masing perangkat daerah ini mengusulkan apa kebutuhannya untuk kira-kira bisa membantu petani yang ada. Tetap berbasis efisiensi anggaran,” jelasnya.
Selain tanaman pangan, dampak kekeringan juga berpotensi dirasakan sektor perkebunan, termasuk komoditas hortikultura seperti sayuran dan cabai. Pemerintah masih memetakan lokasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Menurut Suwarso, kondisi kemarau tidak hanya berpengaruh terhadap pertanian. Keterbatasan air juga dapat berdampak pada perikanan air tawar karena berkurangnya ketersediaan air di sejumlah kolam yang dapat memengaruhi pertumbuhan ikan.
Di sisi lain, berdasarkan pemaparan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam rapat tersebut, kondisi panas masih perlu diwaspadai hingga September.
Karena itu, Pemkot Samarinda memilih melakukan mitigasi lebih awal dengan mengidentifikasi berbagai potensi dampak sebelum kondisi semakin parah.
“Di awal-awal ini tindakan kita adalah mitigasi, identifikasi persoalan-persoalan atau potensi risiko jika kemarau ini berlanjut sampai September, bahkan mungkin Oktober,” pungkas Suwarso.
