Samarinda, Infosatu.co — Target pengoperasian Teras Samarinda Tahap II pada September 2026 masih dibarengi sejumlah pekerjaan lingkungan yang perlu dituntaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Mulai dari tanaman yang mati, sistem penyiraman, hingga penataan area tepian Sungai Mahakam menjadi perhatian sebelum kawasan publik tersebut dibuka.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda Suwarso mengatakan, pihaknya masih melakukan peninjauan terhadap sejumlah fasilitas dan elemen lingkungan di kawasan Jalan Gajah Mada tersebut.
Salah satu yang menjadi perhatian ialah kondisi vegetasi. Beberapa tanaman ditemukan mati sehingga perlu dilakukan penggantian oleh kontraktor.
“Memang saya lihat ada beberapa tanaman yang mati. Nanti kita tunggu penggantian dari kontraktor,” ujar Suwarso, Selasa 11 Agustus 2026.
Menurutnya, keberadaan tanaman dan rumput tidak hanya berkaitan dengan estetika kawasan, tetapi juga menentukan kenyamanan masyarakat ketika Teras Samarinda Tahap II mulai dimanfaatkan sebagai ruang publik.
Karena itu, sistem pemeliharaan tanaman juga perlu dipastikan sejak awal, khususnya ketersediaan jaringan air untuk penyiraman.
DLH mempertimbangkan pemasangan jaringan air apabila fasilitas tersebut belum disiapkan kontraktor. Sistem penyiraman akan diupayakan menggunakan sumber air Sungai Mahakam untuk mengurangi ketergantungan terhadap air Perumda Air Minum Tirta Kencana.
“Kita coba untuk pasang jaringan, mungkin tidak sprinkler karena pemeliharaannya susah,” katanya.
Suwarso menjelaskan, penggunaan sprinkler yang tersedia saat ini dinilai kurang praktis karena membutuhkan pemeliharaan dan berpotensi mengganggu struktur kawasan apabila jaringan bawah tanah harus kembali dibongkar.
Selain tanaman, kondisi rumput gajah mini juga masih dievaluasi. Pertumbuhan rumput dinilai belum optimal karena kondisi lapisan tanah di bawahnya masih bercampur dengan material bebatuan.
“Kita lihat perkembangan dulu setelah kontraktor melakukan perbaikan,” imbuhnya.
DLH juga masih menyiapkan langkah penataan pada sisi tepian Sungai Mahakam. Material yang terbawa aliran sungai dan menumpuk di sekitar kawasan menjadi bagian yang perlu ditangani agar tidak mengganggu tampilan maupun fungsi kawasan publik.
Untuk penanganan tersebut, DLH Samarinda akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV. Langkah penanganan ditargetkan mulai dilakukan pada Agustus 2026.
Sambil menunggu penanganan secara lebih menyeluruh, DLH juga menyiapkan kegiatan kerja bakti di kawasan Sungai Pasar Pagi pada Jumat pekan ini.
Upaya pencegahan juga dilakukan dengan rencana pemasangan kawat penyaring atau wire mesh pada pintu air. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menahan material berupa kayu dan dedaunan agar tidak kembali terbawa masuk dan menumpuk di kawasan sekitar.
“Harapannya sebelum koordinasi pekan ini sudah ada informasi bagaimana upaya penanganannya,” terangnya.
Dengan target pengoperasian pada September, Pemkot Samarinda masih memiliki waktu untuk memastikan aspek lingkungan di Teras Samarinda Tahap II benar-benar siap.
“Pembenahan ini menjadi bagian penting agar kawasan yang diproyeksikan sebagai ruang publik baru itu tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga dapat dipelihara dan dimanfaatkan secara berkelanjutan,” tutupnya.
