Samarinda, Infosatu.co – Buah merupakan salah satu sumber pangan penting dalam pola makan sehat. Kandungan vitamin, mineral, air, antioksidan, dan serat di dalamnya membantu memenuhi kebutuhan zat gizi sekaligus mendukung kesehatan tubuh.
Namun, ketika mengonsumsi buah, muncul pertanyaan yang cukup sering ditemui: lebih baik makan buah secara utuh atau mengolahnya menjadi jus?
Keduanya sama-sama dapat memberikan zat gizi dari buah. Akan tetapi, cara mengolah buah dapat memengaruhi jumlah serat, rasa kenyang, kecepatan konsumsi, serta jumlah gula dan kalori yang masuk ke tubuh.
Berdasarkan informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, buah dan sayuran merupakan sumber vitamin, mineral, serat, dan senyawa antioksidan yang penting bagi tubuh. Kemenkes juga menganjurkan konsumsi buah sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
Buah Utuh Lebih Unggul dari Segi Serat
Jika dibandingkan dengan jus yang telah disaring, buah utuh umumnya menjadi pilihan yang lebih baik karena struktur alami buah masih dipertahankan, termasuk seratnya.
Serat membantu memperlambat penyerapan gula dan dapat memberikan rasa kenyang lebih lama. Kemenkes menjelaskan bahwa serat dalam buah dan sayuran dapat membantu memperlambat penyerapan gula sehingga kadar gula darah lebih terkontrol. Serat juga membantu menjaga kelancaran pencernaan.
Saat buah dimakan secara utuh, seseorang juga cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk mengunyah dibandingkan ketika meminum jus. Kondisi tersebut dapat membantu mengontrol jumlah buah yang dikonsumsi.
Sebaliknya, ketika beberapa buah diblender atau diperas menjadi minuman, buah dapat dikonsumsi dalam jumlah lebih banyak dalam waktu singkat.
Bagaimana Jika Buah Dibuat Jus?
Jus tidak otomatis menjadi minuman yang tidak sehat. Cara pembuatannya menjadi faktor penting.
Jus yang dibuat dari buah segar tanpa tambahan gula dan tidak membuang ampasnya masih dapat memberikan serat dan berbagai zat gizi dari buah.
Kemenkes bahkan menyarankan jika buah dibuat menjadi jus, ampasnya sebaiknya tetap dikonsumsi agar asupan serat tidak banyak berkurang.
Masalah muncul ketika jus dibuat dengan tambahan gula, susu kental manis, sirup, atau pemanis lainnya. Penambahan tersebut dapat meningkatkan jumlah gula dan kalori secara signifikan.
Kemenkes pernah mengingatkan bahwa segelas jus buah bergula dapat mengandung sekitar 150-300 kalori, dengan sekitar separuh kalorinya berasal dari gula yang ditambahkan. Karena itu, konsumsi jus bergula perlu dibatasi.
Mengapa Jus Lebih Mudah Membuat Kita Mengonsumsi Banyak Gula?
Bayangkan seseorang mengonsumsi satu buah jeruk. Setelah satu buah habis, kemungkinan orang tersebut akan merasa cukup.
Namun ketika beberapa buah jeruk diperas menjadi segelas jus, seseorang dapat mengonsumsi sari dari beberapa buah sekaligus tanpa merasa telah makan dalam jumlah banyak.
Inilah salah satu alasan mengapa bentuk pangan juga penting, bukan hanya kandungan gizinya.
Buah utuh memberikan kombinasi air dan serat yang membantu menciptakan rasa kenyang. Sementara itu, jus dapat diminum dengan cepat dan relatif mudah dikonsumsi dalam jumlah lebih besar.
Karena itu, kandungan gula alami dalam buah tidak dapat disamakan begitu saja dengan gula tambahan pada minuman manis. Yang perlu diperhatikan adalah bentuk buah, jumlah yang dikonsumsi, serta bahan tambahan yang digunakan.
Bagaimana dengan Jus yang Tidak Disaring?
Ini merupakan pilihan yang berbeda dari jus yang hanya diambil sarinya.
Jika buah diblender hingga halus dan ampasnya tetap diminum, sebagian besar serat buah masih dapat dipertahankan. Namun, tekstur buah sudah berubah sehingga proses mengonsumsi menjadi lebih cepat dan jumlah buah yang digunakan tetap perlu diperhatikan.
Karena itu, meskipun jus tanpa gula dan tidak disaring dapat menjadi bagian dari pola makan sehat, buah utuh tetap lebih ideal sebagai pilihan sehari-hari.
Kemenkes juga mencatat bahwa buah dan sayuran dalam bentuk utuh kaya akan nutrisi dan serat serta umumnya rendah kalori.
