infosatu.co
EKONOMI

Gelombang PHK Jadi Alarm Ketergantungan Ekonomi Samarinda pada Sektor Tambang

Teks: Kepala Disnaker Kota Samarinda Yuyum Puspitaningrum. (Dok/Infosatu)

Samarinda, Infosatu.co – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pertambangan menjadi pengingat bahwa perekonomian Samarinda masih sangat bergantung pada industri ekstraktif.

Ketika proyek tambang berhenti dan perusahaan melakukan efisiensi, ratusan pekerja langsung kehilangan sumber pendapatan dan harus mencari alternatif mata pencaharian.

Data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Samarinda mencatat sekitar 560 pekerja terdampak PHK dalam beberapa waktu terakhir. Penutupan proyek tambang dan kebijakan efisiensi perusahaan disebut menjadi faktor utama meningkatnya jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan.

Kepala Disnaker Kota Samarinda Yuyum Puspitaningrum mengatakan kondisi tersebut ikut memengaruhi dinamika pasar tenaga kerja di Kota Tepian.

Para korban PHK kini berupaya mendapatkan pekerjaan baru melalui bursa kerja, sementara sebagian lainnya mulai melirik peluang berwirausaha.

“Berdasarkan data kami, sekitar 560 orang terkena PHK. Rata-rata penyebabnya karena perusahaan melakukan penutupan proyek dan efisiensi,” ungkapnya.

Di tengah tekanan tersebut, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Samarinda tercatat sebesar 5,31 persen atau sekitar 25 ribu penduduk usia produktif belum bekerja. Angka itu memang turun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 5,75 persen, namun gelombang PHK dinilai tetap menjadi tantangan bagi stabilitas ekonomi daerah.

Untuk memperluas kesempatan kerja di luar sektor tambang, Disnaker terus membuka akses penempatan tenaga kerja melalui penyelenggaraan bursa kerja yang dapat diikuti lulusan baru maupun tenaga kerja berpengalaman.

“Job fair kami buka tidak hanya untuk lulusan baru, tetapi juga bagi yang sudah memiliki keterampilan atau kompetensi. Namun karena sifatnya kompetitif, semua tetap bersaing,” kata Yuyum.

Selain mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, Disnaker juga memperkuat program pelatihan vokasi sebagai upaya mendorong diversifikasi sumber penghasilan masyarakat. Pelatihan servis telepon seluler, sepeda motor injeksi, dan menjahit telah selesai dilaksanakan, sementara pelatihan tata rias dan food and beverage (FnB) masih berlangsung.

Minat masyarakat terhadap program tersebut cukup tinggi. Dalam periode 29 Desember 2025 hingga 21 Januari 2026, sebanyak 495 orang mendaftar mengikuti pelatihan yang digelar Disnaker.

Program ini dijalankan bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda serta sejumlah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) swasta melalui skema Tailor Made Training (TMT).

Peserta yang memilih berwirausaha juga mendapat pendampingan untuk mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) agar usahanya dapat berjalan secara legal.

“Setelah pelatihan selesai, kami dampingi mereka hingga memperoleh NIB,” pungkasnya.

Related posts

Pelunasan Utang Rp671 Miliar Persempit Ruang Fiskal, Belanja Pembangunan Samarinda Dikurangi

Emmy Haryanti

Revitalisasi Pasar Pagi Selesai, Tapi Pedagang Masih Sepi Pembeli

Emmy Haryanti

Karhutla Ancam Produktivitas Lahan, BPBD Minta Dunia Usaha Perkuat Pencegahan

Emmy Haryanti