Samarinda, Infosatu.co – Revitalisasi fisik Pasar Pagi Samarinda dinilai belum mampu mengembalikan geliat perdagangan. Meski bangunan baru telah berdiri lebih modern dan tertata, para pedagang menilai upaya tersebut perlu diikuti strategi untuk menarik kembali pengunjung agar aktivitas ekonomi di dalam pasar benar-benar pulih.
Sejumlah pedagang mengaku hingga kini omzet penjualan masih jauh dari harapan. Kondisi itu membuat sebagian besar dari mereka hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil berdagang.
Salah seorang pedagang, Hariati mengatakan, dirinya mulai menempati kios baru sejak awal Maret 2026. Namun, setelah beberapa bulan beroperasi, peningkatan jumlah pembeli belum juga dirasakan.
“Bangunannya memang sudah bagus, tapi kalau pembelinya belum kembali ramai, kami tetap sulit bertahan. Yang kami harapkan sekarang bukan hanya pasar yang megah, tetapi juga ada langkah nyata agar masyarakat mau datang dan berbelanja,” ungkapnya.
Menurut Hariati, kondisi tersebut menunjukkan revitalisasi fisik saja belum cukup untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan. Ia berharap pemerintah turut menyiapkan program yang dapat meningkatkan kunjungan masyarakat ke Pasar Pagi.
Selain itu, ia menilai pemerataan arus pengunjung juga perlu menjadi perhatian. Selama ini, transaksi lebih banyak terjadi di kios bagian depan, sedangkan pedagang yang berada di area tengah hingga belakang kerap tidak memperoleh pembeli dalam waktu yang lama.
“Kalau hanya kios di depan yang ramai, pedagang di bagian tengah dan belakang tetap tidak merasakan dampaknya. Kami berharap ada strategi supaya pengunjung mau masuk ke seluruh area pasar,” tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Asma. Menurutnya, suasana Pasar Pagi saat ini masih jauh berbeda dibandingkan sebelum direvitalisasi, ketika aktivitas jual beli berlangsung lebih ramai.
“Revitalisasi ini tentu kami syukuri, tetapi yang lebih penting bagaimana pasar kembali hidup. Kalau pembeli tetap sepi, pendapatan kami juga tidak akan berubah,” ujarnya.
Para pedagang berharap pemerintah tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur semata. Mereka mendorong adanya langkah lanjutan, seperti promosi, penyelenggaraan kegiatan yang mampu menarik masyarakat, hingga evaluasi pengelolaan dan akses di dalam pasar agar seluruh kios memperoleh kesempatan yang sama untuk mendapatkan pembeli.
