infosatu.co
KESEHATAN

Dinkes Samarinda Catat 2.211 Pasien HIV Masih Aktif Berobat hingga Mei 2026

Teks: Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih. (Infosatu.co/Adi)

Samarinda, Infosatu.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat sebanyak 2.211 orang dengan HIV masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV) hingga Mei 2026.

Di sisi lain, upaya deteksi dini terus diperkuat melalui perluasan skrining untuk menemukan kasus sedini mungkin agar pengobatan dapat segera dimulai.

Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih mengatakan target skrining HIV sepanjang 2026 ditetapkan sebanyak 43.189 orang. Hingga Mei, sebanyak 19.577 orang telah menjalani pemeriksaan atau sekitar 45 persen dari target tersebut.

Menurutnya, meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan bukan berarti penyebaran HIV semakin tinggi. Hal itu justru menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mengikuti skrining sehingga kasus dapat diketahui lebih awal.

“Dalam pengendalian HIV, yang terpenting adalah menemukan kasus lebih dini agar pasien bisa langsung mendapatkan pengobatan,” ujar Ismed, Jumat, 24 Juli 2026.

Dari hasil skrining tersebut, Dinkes menemukan 184 kasus baru HIV sepanjang Januari hingga Mei 2026. Sebanyak 145 orang di antaranya telah memulai terapi ARV, sementara sekitar 30 persen kasus baru berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL).

Pada periode yang sama, Dinkes juga mencatat 51 kasus AIDS. Secara kumulatif, jumlah temuan kasus HIV di Kota Samarinda hingga Mei 2026 telah mencapai 4.385 kasus.

Data Dinkes menunjukkan, kelompok LSL masih mendominasi pasien yang aktif menjalani pengobatan dengan proporsi 41 persen.

Selebihnya berasal dari populasi umum sebesar 16 persen, pasangan berisiko tinggi atau pasangan orang dengan HIV sebesar 15 persen, pelanggan pekerja seksual 12 persen, serta pasien tuberkulosis (TB) sebanyak 9 persen.

Ismid menambahkan, angka kematian pada orang dengan HIV juga menunjukkan tren membaik. Setelah tercatat 102 kasus pada 2024 dan 103 kasus pada 2025, hingga Mei 2026 jumlah kematian yang tercatat sebanyak 29 kasus.

Ia menjelaskan, kematian pada orang dengan HIV umumnya bukan disebabkan langsung oleh virus HIV, melainkan akibat infeksi oportunistik atau penyakit penyerta yang muncul ketika sistem kekebalan tubuh sudah menurun.

Karena itu, ia menilai pengendalian HIV tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan. Diperlukan kolaborasi pemerintah, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, hingga komunitas untuk memperluas edukasi, meningkatkan cakupan skrining, sekaligus mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV agar mereka tetap menjalani pengobatan secara rutin.

“Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pengobatan diberikan. Itu menjadi kunci agar kualitas hidup pasien tetap terjaga sekaligus menekan risiko penularan di masyarakat,” pungkasnya.

Related posts

Rehabilitasi ODGJ Tak Lagi Sekadar Sosial, Kini Didukung Layanan Medis

Emmy Haryanti

Takut Ditangkap, Penyalahguna Narkoba Masih Enggan Jalani Rehabilitasi

Emmy Haryanti

Rehabilitasi Kunci Pemulihan Penyalahguna Narkoba, Akses Layanan Masih Terbatas

Emmy Haryanti