Samarinda, Infosatu.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menemukan 184 kasus HIV baru melalui program skrining yang telah menjangkau 19.577 warga hingga Juni 2026.
Jumlah tersebut merupakan hasil pemeriksaan yang baru mencapai sekitar 45 persen dari target tahunan sebanyak 43.189 sasaran.
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih mengatakan skrining HIV menjadi salah satu indikator penting dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Karena itu, cakupan pemeriksaan terus diperluas, terutama kepada kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko.
“Tahun ini target skrining HIV sebanyak 43.189 orang. Sampai Juni, yang sudah menjalani pemeriksaan sekitar 19.577 orang atau sekitar 45 persen dari target,” ujarnya di Samarinda, Rabu, 15 Juli 2026.
Dari hasil skrining tersebut, hingga akhir Mei ditemukan 184 orang yang terkonfirmasi positif HIV. Dinkes memastikan sebagian besar pasien yang terdeteksi telah mendapatkan penanganan melalui terapi antiretroviral (ARV).
“Dari 184 orang yang ditemukan, sebanyak 145 orang sudah menjalani pengobatan,” katanya.
Sementara itu, sebanyak 39 orang lainnya belum memulai terapi. Menurut Ismed, kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor sehingga petugas kesehatan masih terus melakukan edukasi, konseling, dan pendampingan agar mereka bersedia menjalani pengobatan.
“Kami terus melakukan edukasi dan pendampingan karena setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda-beda,” ujarnya.
Ia menjelaskan, deteksi dini melalui skrining menjadi langkah penting agar infeksi HIV dapat diketahui lebih cepat sehingga pasien segera memperoleh pengobatan.
Dengan terapi ARV yang dijalani secara rutin, penderita HIV tetap dapat hidup produktif sekaligus menekan risiko penularan kepada orang lain.
Sebagai perbandingan, pada 2025 Dinkes Samarinda hampir memenuhi target skrining tahunan dengan capaian sekitar 99 persen dari sasaran sekitar 43 ribu orang. Dari pemeriksaan tersebut ditemukan 492 kasus HIV baru.
Ismed memastikan, skrining akan terus diperluas agar semakin banyak masyarakat mengetahui status kesehatannya sejak dini dan segera memperoleh penanganan apabila terdeteksi positif HIV.
“Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula pasien bisa mendapatkan pengobatan. Dengan begitu kualitas hidup penderita tetap terjaga dan risiko penularan juga dapat ditekan,” pungkasnya.
