infosatu.co
KESEHATAN

1.530 Kasus DBD Terjadi di Kaltim, Vaksinasi dan Wolbachia Diperluas

Teks: Ilustrasi nyamuk demam berdarah. (Istimewa)

Samarinda, Infosatu.co – Sebanyak 1.530 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) tercatat terjadi di Kalimantan Timur hingga pertengahan 2026.

Dari jumlah tersebut, dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti.

Merespons tingginya angka kasus tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memperluas layanan vaksinasi DBD sekaligus mengembangkan teknologi Wolbachia sebagai upaya menekan risiko penularan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Jaya Mualimin mengatakan vaksinasi menjadi salah satu langkah yang kini terus diperluas untuk memberikan perlindungan tambahan kepada masyarakat.

“Vaksinasi ini menjadi salah satu bentuk perlindungan tambahan bagi masyarakat untuk menekan risiko infeksi, apalagi saat ini layanan vaksin DBD sudah tersedia di sejumlah fasilitas kesehatan dan rumah sakit,” ujarnya, Senin, 6 Juli 2026.

Selain vaksinasi, Dinkes Kaltim juga mengembangkan teknologi Wolbachia sebagai pelengkap upaya pengendalian DBD.

Menurut Jaya, bakteri Wolbachia yang ditanamkan pada nyamuk Aedes aegypti dapat mengurangi kemampuan nyamuk dalam menularkan virus dengue.

“Sehingga risiko penularan kepada manusia dapat ditekan,” katanya.

Meski begitu, Jaya menegaskan keberhasilan pengendalian DBD tetap bergantung pada peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Kami mengimbau masyarakat rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan menerapkan 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada pagi dan sore hari saat nyamuk Aedes aegypti paling aktif menggigit.

Jaya menambahkan, upaya pencegahan perlu terus diperkuat karena Angka Bebas Jentik (ABJ) di Kalimantan Timur saat ini baru mencapai 83,55 persen.

“Angka tersebut masih perlu kita tingkatkan. Semakin tinggi ABJ, semakin besar peluang kita menekan penyebaran DBD di Kalimantan Timur,” pungkasnya.

Related posts

Benarkah Tidak Dianjurkan Minum Air Putih Saat atau Setelah Makan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Rizki

Pemkot Bontang Siapkan Rp24 Miliar untuk Jaga Kepesertaan PBI Daerah

Rizki

Dinkes Bontang Targetkan Kepuasan Pasien BPJS Meningkat pada 2026

Rizki