Bontang, Infosatu.co – Pemerintah Kota Bontang menargetkan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4,2 hingga 4,5 persen pada 2026 melalui penguatan investasi hijau dan pengembangan sektor ekonomi berkelanjutan.
Strategi tersebut dilakukan sebagai bagian dari transformasi ekonomi daerah agar tidak hanya bergantung pada sektor migas dan industri pengolahan, tetapi juga ditopang sektor pariwisata berbasis lingkungan serta hilirisasi industri.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang Muhammad Aspianur mengatakan investasi hijau menjadi salah satu fokus yang terus ditawarkan kepada calon investor.
Menurutnya, Bontang memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari wisata edukasi berbasis lingkungan hingga hilirisasi produk perkebunan.
“Langkah ini merupakan salah satu bentuk transformasi ekonomi Bontang, sehingga selain hilirisasi industri juga menjadi destinasi pariwisata hijau dan inklusif,” ujarnya, Jumat, 5 Juni 2026.
Aspianur menjelaskan, beberapa peluang investasi yang ditawarkan antara lain pengembangan taman edukasi atau edupark, pembangunan vila terapung di kawasan pesisir, serta hilirisasi industri kelapa sawit berupa produksi fatty amine dan fatty acid.
Selain memberikan nilai tambah ekonomi, investasi tersebut juga dinilai selaras dengan upaya pengurangan emisi karbon dan pembangunan berkelanjutan.
Untuk tahun 2026, Pemkot Bontang menargetkan realisasi investasi mencapai Rp3,42 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 11,24 persen dibanding target tahun sebelumnya yang berada di angka Rp3,08 triliun.
Optimisme mencapai target itu didukung capaian investasi pada triwulan pertama 2026 yang telah menembus Rp796,78 miliar atau sekitar 23,25 persen dari target tahunan.
Dari jumlah tersebut, investasi didominasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp707,31 miliar atau 88,77 persen. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) berkontribusi Rp89,46 miliar atau 11,23 persen.
Aspianur mengatakan sektor pariwisata menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru yang tengah dipersiapkan pemerintah daerah. Hal itu sejalan dengan draf Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM) Kota Bontang 2025-2035 yang menempatkan pariwisata edukatif dan industri kreatif sebagai sektor prioritas investasi.
Salah satu kawasan yang ditawarkan kepada investor adalah Hutan Mangrove Bontang Kuala yang saat ini telah dilengkapi berbagai fasilitas seperti eco-edupark mangrove, skybridge, menara pandang, galeri konservasi, dan eco-café.
Selain itu, Pulau Beras Basah juga masuk dalam daftar kawasan strategis investasi pariwisata. Destinasi tersebut dinilai memiliki daya tarik kuat melalui keindahan pantai pasir putih, laut yang jernih, serta konsep wisata ramah lingkungan yang dapat terus dikembangkan.
Tak hanya itu, Pulau Tihi-Tihi juga dipromosikan sebagai destinasi wisata bahari dengan potensi snorkeling dan konservasi terumbu karang berbasis masyarakat.
Menurut Aspianur, pengembangan investasi hijau di berbagai kawasan tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat posisi Bontang sebagai kota yang mulai bertransformasi menuju ekonomi berkelanjutan.
“Potensi yang kita miliki cukup besar. Harapannya investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong pembangunan yang lebih ramah lingkungan,” pungkasnya.
