infosatu.co
DISKOMINFO BONTANG

Pemutakhiran Data Stunting, Timbang Serentak Balita Bontang Digelar Juni 2026

Teks: Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris saat memberikan keterangan kepada awak media. (Infosatu.co/Adi)

Bontang, Infosatu.co – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang kembali memperkuat langkah percepatan penanganan stunting melalui rencana pelaksanaan timbang serentak balita pada Juni 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pemutakhiran data sekaligus upaya memastikan intervensi penanganan stunting berjalan lebih tepat sasaran di seluruh wilayah kota.

Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris mengatakan pelaksanaan timbang serentak menjadi momentum penting dalam memastikan kondisi terbaru balita di lapangan, sekaligus memperkuat basis data penanganan stunting yang saat ini masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

“Insyaallah bulan Juni kita timbang serentak lagi. Setelah itu kami optimistis angka stunting bisa turun lagi,” ujarnya, Selasa, 19 Mei 2026.

Agus Haris menjelaskan, saat ini angka stunting di Bontang masih berada di kisaran 15 persen setelah sebelumnya turun dari 17 persen pada 2024.

Pemerintah daerah menargetkan angka tersebut kembali ditekan hingga 12,5 persen pada 2026 melalui intervensi lintas sektor berbasis data.

Ia menuturkan, penanganan stunting tidak boleh hanya berhenti pada laporan administratif, tetapi harus benar-benar dirasakan masyarakat melalui tindakan nyata di lapangan.

“Kita ingin penanganan stunting ini benar-benar berjalan di lapangan, bukan hanya laporan administratif,” tegasnya.

Sebelumnya pada rapat koordinasi bersama dinas terkait, Dinas Kesehatan Kota Bontang memaparkan hasil pemantauan balita dan capaian posyandu, serta rencana validasi data melalui pengukuran ulang saat pelaksanaan timbang serentak.

Data hasil kegiatan nantinya akan dihimpun dari enam puskesmas dan 15 kelurahan sebelum dipusatkan di Bapperida untuk pemetaan lebih lanjut.

Pemkot juga menyoroti masih adanya sejumlah tantangan di lapangan, mulai dari rendahnya partisipasi sebagian keluarga dalam membawa anak ke posyandu, penolakan imunisasi, hingga pernikahan usia dini yang turut berkontribusi terhadap risiko stunting.

Selain itu, intervensi penanganan tidak hanya menyasar anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga kelompok berisiko melalui pendampingan sejak sebelum kehamilan. Upaya tersebut didukung dengan perbaikan sanitasi, penyediaan air bersih, pola hidup sehat, hingga pencegahan paparan asap rokok di lingkungan keluarga.

Pemkot Bontang juga terus mendorong penguatan data terintegrasi melalui aplikasi Super S dan Si Rindu serta sinkronisasi dengan Aksi Bangda, agar setiap intervensi dapat lebih terarah dan berbasis kondisi riil di lapangan.

Meski menghadapi berbagai tantangan, pemerintah mencatat adanya capaian positif dari program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), vitamin D, dan zinc di Kelurahan Tanjung Limau, yang berhasil membantu 18 dari 25 anak keluar dari kategori stunting.

“Karena itu, kami terus memperkuat peran IBI, PKK, penyuluh KB, dan Tim Pendamping Keluarga agar edukasi bisa sampai ke tingkat keluarga,” pungkasnya. (Adv)

Related posts

Bontang Kejar Penurunan Stunting hingga 12,5 Persen Tahun 2026

Rizki

Raperda Bencana Industri di Bontang Diusulkan Lebih Spesifik Atur Mitigasi Industri

Rizki

Pemkot Bontang Minta Materi Raperda Kepemudaan Disesuaikan dengan Kewenangan Daerah

Rizki