
Samarinda, infosatu.co – Penguatan peran Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dalam upaya menekan angka stunting di daerah sangat penting.
Keberhasilan program penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan nyata terhadap para Kader posyandu yang bekerja langsung di lapangan.
Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim) Syahariah Mas’ud mengatakan meskipun angka stunting menunjukkan perubahan dibanding tahun sebelumnya, pengawasan dan intervensi tetap harus diperkuat agar target penurunan stunting terus meningkat setiap tahun.
“Walaupun sudah ada perubahan di tahun kemarin, kami di DPRD tetap harus memantau supaya targetnya jangan menurun. Harus setiap tahun meningkat penekanannya, lebih maksimal lagi,” ungkapnya Senin, 18 Mei 2026.
Ia menjelaskan, selama ini program penanganan stunting di daerah pemilihannya lebih banyak difokuskan pada penyediaan makanan sehat dan pemenuhan gizi. Namun kini, perhatian juga diarahkan pada penguatan fungsi posyandu di masyarakat.
“Saya minta posyandu ini benar-benar difungsikan. Bahkan di seluruh kota, di 10 kecamatan. Kemarin saya juga turun langsung melihat kondisi stunting di masyarakat. Patokan saya itu Posyandu, karena posyandu sebenarnya sangat berjasa,” katanya.
Dari hasil turun lapangan, Syahariah menemukan masih banyak kader posyandu yang menjalankan kegiatan secara swadaya karena minimnya dukungan anggaran operasional.
“Saya tanya langsung bagaimana kegiatan untuk ibu hamil dan anak-anak. Mereka bilang tetap jalan, tapi biaya kegiatan ditanggung sendiri,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena para kader posyandu merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan anak di lingkungan masyarakat.
“Kenapa biaya sendiri? karena katanya dari dinas tidak ada anggaran. Nah ini nanti saya minta kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) agar anggaran itu benar-benar dialokasikan,” tegasnya.
Politisi perempuan Golkar itu juga meminta agar bantuan maupun dukungan pemerintah dapat disalurkan langsung kepada posyandu agar lebih efektif dan tepat sasaran.
“Kita maunya langsung ke posyandu, jangan lewat tangan kedua. Supaya kerja mereka yang langsung di lapangan juga bisa kita dukung,” terangnya.
Menurutnya, keberadaan posyandu selama ini sangat membantu pemerintah dalam menjalankan program kesehatan masyarakat, khususnya dalam pencegahan stunting.
“Yang paling berjasa itu memang posyandu. Karena Dinkes juga sangat terbantu dengan keberadaan mereka, sementara yang bekerja langsung di lapangan itu posyandu,” ucap Syahariah.
Sebagai bentuk dukungan, ia mengaku turut membantu kebutuhan kader posyandu di sejumlah kecamatan, termasuk penyediaan seragam.
“Karena sebelumnya mereka tidak punya seragam. Jadi saya turun tangan membantu beberapa kecamatan,” katanya.
Ia menyebut, di wilayah yang menjadi perhatiannya terdapat total 14 kecamatan (Penajam Paser utara dan Paser) yang membutuhkan dukungan bagi kader posyandu.
“Posyandu sebenarnya aktif, tetapi geraknya terbatas karena keterbatasan di lapangan. Kemarin saya juga membantu beberapa kegiatan mereka di lapangan,” pungkasnya.
