Samarinda, infosatu.co – Musim kemarau yang mulai mengintai sejumlah wilayah di Kota Samarinda mendorong pemerintah bergerak cepat untuk menjaga stabilitas sektor pertanian. Salah satu langkah yang kini diprioritaskan adalah pembenahan jaringan irigasi sebagai upaya memastikan produktivitas pangan tetap aman.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Distapangtani) Kota Samarinda tengah melakukan pemetaan terhadap sejumlah kawasan pertanian yang berpotensi terdampak kekeringan. Fokus utama diarahkan pada wilayah-wilayah yang dinilai rentan mengalami gangguan distribusi air ke lahan persawahan.
Kepala Distapangtani Samarinda Darham mengatakan Kelurahan Makroman di Kecamatan Sambutan Kota Samarinda menjadi salah satu daerah yang paling perlu mendapat perhatian menjelang puncak musim kering.
Berbeda dengan beberapa wilayah lain yang masih menerima curah hujan cukup, kawasan tersebut berpotensi menghadapi penurunan produktivitas jika sistem pengairannya tidak segera dibenahi.
“Di Kecamatan Samarinda Utara masih terdapat bantuan hujan,” ujar Darham, Senin 11 Mei 2026.
Meski demikian, aktivitas tanam padi di sejumlah titik di Samarinda tetap berlangsung. Pemerintah pun tetap mendorong pencapaian target peningkatan produksi dengan pola panen hingga 2,5 kali dalam setahun.
Dari hasil evaluasi lapangan, persoalan utama yang ditemukan bukan terletak pada minimnya ketersediaan sumber air, melainkan terganggunya aliran distribusi akibat kondisi saluran irigasi yang tidak terawat.
Sejumlah jalur pengairan dilaporkan mengalami penyumbatan akibat ditumbuhi tanaman liar. Kondisi ini diduga terjadi karena kurangnya pemeliharaan rutin maupun kegiatan gotong royong di tingkat kelompok tani, terutama di kawasan Makroman.
“Ternyata irigasi ditumbuhi tanaman karena tidak sempat dilakukan gotong royong,” ungkapnya.
Darham menjelaskan, secara umum pasokan air di wilayah tersebut sebenarnya masih mencukupi untuk mendukung kebutuhan pertanian. Namun, pendangkalan saluran dan hambatan pada titik-titik percabangan membuat air tidak dapat mengalir optimal ke seluruh area persawahan.
“Sebenarnya airnya ada, tetapi irigasinya saja yang bermasalah karena tersumbat,” tambahnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Distapangtani kini telah berkoordinasi dengan kelompok tani dan tim teknis di lapangan guna melakukan normalisasi saluran irigasi agar distribusi air kembali lancar.
Di tengah ancaman perubahan cuaca, pemerintah juga belum menjadikan perluasan lahan sebagai fokus utama pembangunan pertanian. Strategi yang dipilih saat ini adalah memaksimalkan potensi lahan yang sudah tersedia agar tetap produktif dan mampu menopang kebutuhan pangan daerah.
Sejumlah kawasan yang dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan pertanian berkelanjutan di Samarinda antara lain Kecamatan Samarinda Utara, Sambutan, Makroman, hingga sebagian wilayah Palaran.
Melalui berbagai langkah antisipatif tersebut, pemerintah berharap sektor pertanian Samarinda tetap mampu bertahan menghadapi tekanan musim kemarau dan menjaga ketahanan pangan daerah tetap stabil.
“Perluasan lahan memang ada, tetapi kami lebih mengutamakan optimalisasi terlebih dahulu,” tutupnya.
