Samarinda, infosatu.co – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Idulfitri di Masjid Miftahul Jannah, Sambutan, Jalan Emboen Suryana, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) yang diikuti ratusan jemaah dari berbagai kalangan.
Kepadatan jemaah membuat sebagian warga melaksanakan salat hingga ke badan jalan. Antusias tersebut mencerminkan semangat masyarakat dalam merayakan Idulfitri, yang juga dimanfaatkan untuk mempererat silaturahmi.
Usai salat, jemaah mengikuti ceramah sebagai bagian dari rangkaian peringatan.
Ceramah Idulfitri disampaikan oleh Habib Muhammad Assegaf. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jemaah untuk kembali memperkuat persaudaraan sesama umat Islam. Ia mengingatkan bahwa umat Islam memiliki banyak kesamaan yang menjadi dasar kuat untuk tetap bersatu.
Menurutnya, umat Islam menyembah Tuhan yang sama, mengikuti Nabi dan Rasul yang sama, menghadap kiblat yang sama, serta membaca kitab suci yang sama.
Ia menegaskan bahwa persamaan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perbedaan yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
“Dari ayat tersebut, menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dan tidak membiarkan perbedaan menjadi pemicu perpecahan,” ujarnya, Sabtu, 21 Maret 2026.
Dalam ceramahnya, Habib Muhammad Assegaf menyampaikan empat langkah yang dapat dilakukan untuk membangun dan mempertahankan persaudaraan.
Langkah pertama adalah menjauhi sikap dengki dan permusuhan. Ia mencontohkan kisah Qabil dan Habil, di mana rasa iri hati menjadi awal terjadinya pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.
Ia juga mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW, “Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
“Sikap dengki dapat mendorong seseorang melakukan ghibah, menghasut, hingga memfitnah, yang pada akhirnya merusak hubungan antar sesama,” katanya.
Langkah kedua adalah saling memaafkan dan berlapang dada. Ia menegaskan bahwa tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan dalam kehidupan. Karena itu, sikap memaafkan menjadi kunci penting dalam menjaga hubungan baik.
Ia mengutip doa yang sering dibaca pada sepuluh malam terakhir Ramadan, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaaf, maka maafkanlah aku.” Ia menilai, menjadi hal yang tidak sejalan jika seseorang berharap diampuni oleh Allah, tetapi sulit memaafkan kesalahan orang lain.
Habib Muhammad Assegaf juga mencontohkan sikap para ulama seperti Imam Malik bin Anas dan Imam Ahmad bin Hanbal yang memilih memaafkan orang yang menzalimi mereka.
Bahkan, menurutnya, kesempurnaan memaafkan adalah tidak membalas perbuatan zalim dan tetap mendoakan kebaikan.
Langkah ketiga adalah menjaga lisan. Ia menyebut lisan sebagai bagian kecil dari tubuh, tetapi memiliki dampak yang sangat besar.
Lisan dapat menjadi sarana meraih pahala jika digunakan untuk berzikir, berselawat, dan berkata baik, namun juga bisa menjadi sumber dosa jika digunakan untuk menyebarkan kebencian, fitnah, dan kabar yang tidak benar.
Ia mengutip hadis Nabi, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.”
Ia juga mengingatkan pesan para sahabat seperti Abu Bakar dan Ibnu Abbas yang menekankan pentingnya menjaga ucapan agar tidak menimbulkan penyesalan.
Langkah terakhir adalah meningkatkan kepedulian sosial. Ia mencontohkan kisah Abu Bakar yang dalam satu hari melakukan berbagai amal kebaikan, seperti berpuasa, mengantar jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit.
Ia menyebut, Nabi Muhammad SAW menyebut bahwa orang yang mampu melakukan itu akan dijamin masuk surga.
Ia menyinggung kondisi umat Islam di berbagai tempat, termasuk di Gaza, Palestina, yang masih membutuhkan bantuan. Ia menggambarkan bagaimana sebagian saudara Muslim menjalani ibadah dalam keterbatasan, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Pesan tersebut kemudian dilanjutkan dengan ajakan untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah.
“Teruslah untuk menjaga persaudaraan dengan menjauhi dengki, saling memaafkan, menjaga lisan, serta saling membantu dan mendoakan,” tuturnya.
Ia berharap, dengan upaya tersebut, kehidupan bermasyarakat dapat berjalan lebih harmonis dan penuh kasih sayang.
