
Samarinda, infosatu.co – Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, meminta semua pihak bersikap objektif menyikapi kritik terkait kecilnya bagi hasil 10 persen, kerjasama Perumda Varia Niaga dengan pihak ketiga di Teras Samarinda.
Hal ini merujuk pada operasional Jet Spark dan Teras Mahakam Cafe, di mana Iswandi menekankan bahwa kehadiran mitra swasta tersebut jangan hanya dilihat dari angka setoran.
Melainkan dari keberanian berinvestasi besar untuk mengubah wajah kota menjadi lebih indah dan bernilai ekonomi.
Iswandi menekankan bahwa dalam dunia bisnis, skema bagi hasil 10 persen harus dilihat secara detail, apakah nilai tersebut diambil dari pendapatan kotor (bruto) atau keuntungan bersih (net).
Ia memperingatkan agar pengawasan legislatif tidak sampai mematikan semangat kreativitas anak muda dan pelaku UMKM yang telah berhasil mengubah wajah Samarinda di Kalimantan Timur (Kaltim).
“Saya tidak mau timbul anggapan kita menyusahkan pelaku mikro dan anak muda kreatif yang sudah susah payah menciptakan keramaian dan mempercantik wajah kota,” katanya.
“Jangan sampai begitu tempat sudah ramai, baru kita datang dan mempermasalahkan pembagian hasil tanpa melihat prosesnya,” ujarnya, Rabu 29 April 2026.
Politikus PDI Perjuangan ini mengingatkan adanya multiplier effect yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka pendapatan daerah yang kecil.
Menurutnya, keberadaan Teras Mahakam Cafe dan Jet Spark telah mengubah kawasan yang dulunya kumuh menjadi ikon baru kota, sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.
Menanggapi dorongan skema bagi hasil 50-50 yang sempat mencuat, Iswandi menilai hal tersebut kurang rasional jika investasi awal sepenuhnya ditanggung oleh pengusaha swasta.
“Bisnis apa yang hasilnya langsung 50 persen? Kita harus rasional. Pengusaha itu mengeluarkan investasi awal, peralatan, renovasi, hingga gaji tenaga kerja,” katanya.
“Kecuali kalau Varia Niaga yang menyiapkan semua fasilitasnya, baru boleh bicara bagi hasil besar. Kalau pengusaha yang modal sendiri lalu kita minta 50 persen, pengusaha dapat apa?” tegasnya.
Meski membela iklim usaha, Iswandi tetap memberikan catatan terhadap kinerja internal Varia Niaga.
Ia menyoroti kontribusi PAD sebesar Rp500 juta yang dinilai sangat kecil, mengingat perusahaan daerah tersebut telah mendapatkan suntikan modal sebesar Rp10 miliar.
“Saya pernah katakan, disuntik Rp10 miliar tapi cuma setor Rp500 juta itu sangat kecil. Kalau uang itu disimpan di deposito saja, bunganya bisa lebih dari itu tanpa harus bekerja keras,” katanya.
“Jadi yang perlu dibenahi adalah manajemen internalnya, bukan justru mengganggu iklim usaha yang sudah jalan,” tambahnya.
Iswandi menyarankan agar pihak Varia Niaga, pemerintah kota, dan pelaku usaha duduk bersama untuk mencari solusi terbaik tanpa harus menciptakan kegaduhan di ruang publik.
“Tugas kita memastikan regulasi itu mudah dan ada jaminan berusaha. Dunia usaha inilah yang menciptakan lapangan kerja, bukan pemerintah,” katanya.
“Kita harus support agar mereka tenang berusaha, kota kita jadi indah, dan daerah tetap mendapatkan hasilnya secara proporsional,” pungkasnya.
