Samarinda, Infosatu.co – Musim hujan di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai berlangsung secara bertahap di sejumlah wilayah. Sebagian daerah telah lebih dahulu memasuki musim hujan sejak awal Oktober 2026, sementara sebagian besar wilayah lainnya diprakirakan menyusul pada Dasarian II November 2026.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah bagian utara hingga barat laut Kaltim mulai memasuki musim hujan sekitar 3 Oktober dan terus mengalami hujan hingga akhir bulan.
Selanjutnya, beberapa wilayah mulai memasuki musim hujan pada Dasarian I November. Daerah tersebut meliputi sebagian wilayah utara Kutai Kartanegara (Kukar), sebagian kecil Berau, serta Balikpapan.
“Khusus Balikpapan, tanda-tanda masuknya musim hujan terlihat dari aktivitas hujan yang terjadi selama sepekan terakhir. Bahkan, pada pagi hari mulai terdengar suara guntur disertai hujan dengan intensitas ringan,” ungkap Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono, saat menjadi pembicara terkait kesiapsiagaan bencana banjir di Kaltim, Kamis, 5 November 2026.
Meski sejumlah wilayah telah lebih dahulu memasuki musim hujan, sebagian besar daerah di Kaltim diprakirakan baru mengalami awal musim hujan pada Dasarian II November 2026.
Puncak musim hujan diprediksi berlangsung pada Desember 2026. Adapun akhir musim hujan diperkirakan terjadi pada April hingga Mei 2027.
Durasi musim hujan tahun ini diperkirakan lebih pendek. Meski demikian, sifat hujan di Kaltim diprakirakan berada dalam kategori normal berdasarkan rata-rata curah hujan selama 30 tahun.
Menurut Djoko, kondisi tersebut memberikan peluang untuk mengoptimalkan potensi air hujan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air baku. Pemerintah dan instansi terkait diharapkan dapat memanfaatkan ketersediaan air melalui pembangunan embung maupun fasilitas penampungan lainnya.
Namun, awal musim hujan juga membawa sejumlah risiko bencana hidrometeorologi. Ancaman yang perlu diantisipasi meliputi banjir secara tiba-tiba dan angin kencang, terutama selama masa peralihan cuaca.
Masyarakat di wilayah pesisir juga diminta mewaspadai potensi banjir rob pada November. Fenomena bulan purnama dapat meningkatkan pasang air laut. Apabila terjadi bersamaan dengan hujan lebat, risiko banjir rob berpotensi semakin besar.
Memasuki Desember, frekuensi hujan diperkirakan semakin meningkat dengan curah hujan lebih tinggi dan berpotensi terjadi merata di seluruh wilayah Kaltim. Selain banjir dan angin kencang, tanah longsor juga menjadi ancaman, khususnya di kawasan lereng.
Djoko menjelaskan, pada awal musim hujan, air belum tentu terserap secara optimal hingga lapisan tanah bagian bawah. Kondisi tersebut membuat daya ikat tanah belum cukup kuat untuk menahan beban di bagian atas.
Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, lapisan tanah yang belum stabil berpotensi mengalami pergeseran dan memicu longsor.
“Pada masa peralihan, lapisan tanah bagian bawah belum tentu kuat mengikat karena air belum terserap secara optimal. Sehingga beban di bagian atas bisa menggeser atau menggoyangkan tanah dan berpotensi menyebabkan longsor. Ini yang harus diwaspadai,” jelasnya.
