Jakarta, Infosatu.co – Dewan Pengawas Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAkTI Komdigi) Virgie Baker mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru membagikan informasi di media sosial tanpa lebih dulu memastikan kebenarannya. Sebab, setiap aktivitas di ruang digital dapat menjadi jejak yang sulit dihapus.
“Apa yang kita share, apa yang kita klik, apa yang kita post itu mencerminkan identitas kita pribadi. Dan yang namanya jejak digital itu sulit sekali untuk dihilangkan,” ujarnya dalam Sosialisasi Merajut Nusantara “Bijak Berdigital, Saring Sebelum Sharing” yang digelar BAkTI Komdigi bersama DPR RI secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut Virgie, kebiasaan langsung bereaksi terhadap konten viral tanpa memeriksa fakta dapat membuat masyarakat ikut menyebarkan informasi keliru. Kondisi itu juga membuka risiko lain seperti penipuan daring, kebocoran data pribadi, fitnah, ujaran kebencian hingga perundungan siber.
Ia meminta masyarakat membaca informasi secara utuh, memeriksa sumber dan tanggal publikasi, serta membandingkannya dengan sumber tepercaya sebelum membagikan informasi.
Jika menemukan konten bermasalah, masyarakat juga dapat menggunakan fitur pelaporan yang tersedia pada platform digital.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Abu Bakar Ashiddiq Yogyakarta, Ahmad Khudhori menekankan pentingnya prinsip tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
Ia mengingatkan masyarakat agar mempertimbangkan tiga hal sebelum membagikan informasi, yakni memastikan kebenarannya, menilai apakah informasi tersebut perlu dibagikan, serta mempertimbangkan cara dan waktu penyampaiannya.
“Berhentilah sejenak untuk memeriksa sebelum menekan tombol bagikan,” pesannya.
Anggota DPR RI Sukamta juga menyoroti kebiasaan pengguna menghabiskan waktu dengan menggulir konten tanpa tujuan yang jelas. Algoritma media sosial membuat pengguna terus menerima konten yang mampu menarik perhatian, meski belum tentu memberikan informasi yang utuh atau bermanfaat.
“Algoritma yang memilihkan konten untuk kita bukan semata-mata berurusan dengan benar atau salah, melainkan dengan seberapa besar konten tersebut mampu membuat pengguna semakin terikat,” ucapnya.
Ia mendorong masyarakat mengelola penggunaan perangkat digital secara lebih bijak dengan memanfaatkannya untuk belajar, membaca, mengembangkan pengetahuan, kreativitas, jejaring, hingga peluang usaha.
