Jakarta, Infosatu.co – Sebanyak 20.836 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas sepanjang Januari hingga September 2026. Jika dirata-ratakan, sekitar 76 orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas.
Data tersebut disampaikan Jasa Raharja dalam kegiatan Retrospeksi Korban Kecelakaan Lalu Lintas Tahun 2026 yang digelar bersama Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri di Royal Palm Hotel Conference Center, Jakarta Barat, Kamis, 8 Oktober 2026.
Corporate Secretary Jasa Raharja Sigit Harismun mengatakan sepanjang sembilan bulan tersebut pihaknya telah melayani 129.443 korban kecelakaan. Selain korban meninggal dunia, sebanyak 108.607 orang mengalami luka-luka.
Menurut Sigit, tingginya jumlah korban menunjukkan bahwa pelayanan setelah kecelakaan harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan.
“Secepat apa pun santunan diberikan, tidak ada yang dapat menggantikan nyawa atau sepenuhnya menghapus dampak kecelakaan,” ujar Sigit.
Jasa Raharja mencatat telah menyalurkan santunan dan biaya perawatan sebesar Rp2,19 triliun selama periode tersebut. Pelayanan korban didukung 2.866 rumah sakit mitra, sementara santunan bagi korban meninggal dunia rata-rata diterima ahli waris dalam waktu kurang dari 24 jam.
Namun, Sigit menegaskan penanganan korban tidak cukup jika kecelakaan terus terjadi. Bersama Korlantas Polri dan para pemangku kepentingan, Jasa Raharja telah melaksanakan 6.098 program keselamatan serta melakukan intervensi di 875 titik rawan kecelakaan. Dari intervensi tersebut, penurunan korban meninggal dunia tercatat terjadi di 430 titik.
“Karena itu, Jasa Raharja terus memperkuat peran, dari pemberi santunan menjadi pelindung sekaligus mitra dalam upaya pencegahan kecelakaan,” ungkapnya.
Sigit berharap retrospeksi tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk melihat dampak kecelakaan, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat di jalan.
“Mari menjadikan retrospeksi ini sebagai titik balik. Bukan hanya untuk mengenang kejadian yang telah berlalu, tetapi untuk mengubah perilaku di jalan agar semakin sedikit keluarga yang kehilangan dan semakin banyak masyarakat yang selamat sampai tujuan,” pesannya.
Salah seorang penerima kaki palsu menceritakan kecelakaan yang dialaminya terjadi saat berkendara dalam kondisi lelah dan mengantuk. Ia diduga mengalami microsleep sebelum menyadari ada truk di depannya.
Saat berusaha menghindar, sepeda motornya terjatuh dan menyeret tubuhnya hingga mengalami cedera berat pada kaki. Setelah menjalani dua kali operasi dan mendapat pendampingan, bantuan kaki palsu membuatnya kembali dapat berjalan.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri berkendara ketika tubuh sudah lelah atau mengantuk.
“Utamakan keselamatan, bukan kecepatan. Kalau lelah atau mengantuk, sebaiknya menepi dan beristirahat karena memaksakan perjalanan dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain,” tuturnya.
Dalam kegiatan retrospeksi tersebut, Jasa Raharja juga menyerahkan 50 alat bantu kepada penyintas kecelakaan, terdiri atas 10 kaki palsu, 20 kursi roda, dan 20 tongkat kruk.
