infosatu.co
EKONOMI

Mau Cuan dari Investasi? Jangan Sampai Dana Darurat Malah Kosong

Teks: Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Kaltim, Yulianta (Infosatu.co/R’sya)

Samarinda, Infosatu.co – Keinginan mendapatkan keuntungan dari investasi jangan sampai membuat mahasiswa mengabaikan kebutuhan hidup dan dana darurat. Kesiapan finansial menjadi hal yang perlu diperhatikan sebelum mulai menempatkan uang pada instrumen investasi.

Kepala Divisi Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK), Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Kaltim, Yulianta mengatakan investasi perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kemampuan seseorang dalam menghadapi risiko.

Menurutnya, kebutuhan hidup harus menjadi prioritas sebelum seseorang mulai mengalokasikan uang untuk investasi. Setelah itu, mahasiswa perlu menyiapkan dana darurat untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak.

“Tahapan pertamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Nah, kebutuhan hidup salah satunya adalah punya dana darurat,” ujarnya di Samarinda, Jumat, 16 Oktober 2026.

Meski demikian, Yulianta menjelaskan bahwa kebutuhan hidup, dana darurat, dan investasi dapat dijalankan bersamaan apabila proporsinya disesuaikan dengan kemampuan finansial. Porsi kebutuhan hidup dan dana darurat tetap perlu lebih besar sebelum seseorang meningkatkan alokasi investasinya.

Selain kesiapan dana, ia mengingatkan calon investor agar memahami prinsip 2L, yakni legal dan logis. Legal berarti memastikan produk atau penyedia jasa keuangan memiliki izin dan berada dalam pengawasan otoritas yang berwenang. Sementara logis berarti menilai apakah keuntungan yang ditawarkan masuk akal dibandingkan dengan risiko yang harus ditanggung.

“Jangan sampai mengharapkan imbalan hasil yang cepat dengan tanpa risiko, tergiur, nanti malah menjadi korban penipuan atau investasi bodong,” pesannya.

Yulianta menegaskan bahwa tawaran keuntungan tinggi tidak boleh langsung dipercaya tanpa mempertimbangkan risikonya. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memahami prinsip high risk, high return, yakni potensi keuntungan yang lebih tinggi umumnya disertai risiko yang lebih besar.

Bagi mahasiswa yang baru mulai berinvestasi, Yulianta menyarankan agar mempelajari instrumen yang sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan finansial.

Salah satu pilihan yang disebutkannya ialah reksa dana, yang pengelolaan investasinya dilakukan oleh manajer investasi. Setelah memahami cara kerja dan risiko investasi, investor pemula dapat mempelajari instrumen lain, termasuk saham.

Namun, ia menekankan bahwa peningkatan literasi keuangan tidak cukup berhenti pada pengetahuan. Mahasiswa perlu mempraktikkan pengelolaan keuangan secara bertahap agar mampu mengambil keputusan finansial dengan lebih bijak.

Related posts

Tambang Masih Menghidupi Kaltim, Anak Muda Belum Melirik Ekonomi Alternatif

R'sya Rahmadina

Parkir Tepi Jalan Samarinda Belum Terukur, Potensi PAD Terancam Bocor

Rizki

Kukar Kaya SDA, Tapi BUMD Tak Jadi Pemain

R'sya Rahmadina