Samarinda, Infosatu.co – Seorang balita berinisial YS, berusia satu tahun, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mulya Medika Samarinda, Kamis, 15 Oktober 2026.
Peristiwa ini menjadi perhatian di tengah kondisi kualitas udara yang sempat masuk kategori tidak sehat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Keluarga menduga paparan asap karhutla yang menyelimuti kawasan tempat tinggal mereka di Bukuan, Palaran, pada malam sebelum kejadian berkaitan dengan kondisi kesehatan YS.
Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda menegaskan bahwa berdasarkan diagnosis terakhir dokter yang merawat, kematian balita tersebut tidak dinyatakan akibat asap karhutla.
Sebelum meninggal dunia, YS sempat dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis. Karena membutuhkan penanganan lebih lanjut, korban kemudian dirujuk ke rumah sakit hingga menjalani perawatan intensif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU).
Kepad awak media, Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran dan surveilans terhadap kasus tersebut. Penelusuran dilakukan dengan meminta informasi dari rumah sakit tempat YS mendapatkan perawatan terakhir sebelum meninggal dunia.
Menurut Ismed, dalam ilmu kedokteran, penetapan penyebab kematian mengacu pada diagnosis terakhir dokter yang menangani pasien.
“Penyebab kematian itu berdasarkan diagnosis terakhir dokter yang merawat. Kami sudah menelusuri ke rumah sakit terakhir tempat pasien meninggal, dan diagnosis dokter yang terakhir merawat tidak menyebutkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena karhutla,” jelasnya pada Jumat, 16 Oktober 2026 saat di hubungi melalui via whatsapp.
Dengan demikian, Ismed menegaskan bahwa berdasarkan hasil penelusuran terhadap diagnosis medis tersebut, tidak terdapat keterangan yang menyatakan asap karhutla sebagai penyebab kematian YS.
Meski dugaan hubungan antara paparan asap dan kematian YS tidak dinyatakan dalam diagnosis terakhir dokter, kondisi kualitas udara akibat karhutla tetap menjadi perhatian masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti bayi dan anak-anak. (ADV)
