Samarinda, Infosatu.co – Pengemudi ojek online (ojol) di Samarinda, Muhammad Jamaludin Hayyi (34), mengaku waktu kerjanya banyak terbuang saat mengantre BBM. Dalam sekali antre, ia bisa menghabiskan waktu hingga satu setengah jam dan kehilangan kesempatan mengambil tiga sampai empat order.
Jamaludin mengatakan antrean BBM di Samarinda dapat berlangsung sekitar 45 menit, satu jam, bahkan hingga satu setengah jam. Bagi pengemudi ojol yang mengandalkan jumlah order untuk mendapatkan penghasilan, waktu tersebut dinilai cukup berarti.
“Kalau 45 menit tadi itu bisa ngelawatin tiga sama empat (order). Ya kita rugi waktu,” ujarnya di Samarinda, Kamis, 1 Oktober 2026.
Ia memperkirakan, jika waktu yang terbuang tersebut dihitung dalam bentuk penghasilan, nilainya bisa mencapai sekitar Rp40 ribu.
Jamaludin sendiri telah menjadi pengemudi ojol selama enam tahun. Empat tahun ia jalani di Jawa, sedangkan dua tahun terakhir di Samarinda. Dari pengalaman tersebut, ia merasakan perbedaan kondisi antrean BBM di kedua daerah.
“Kalau di Jawa enggak, kebetulan saya lebih dominan di Jawa. Di Jawa ngojol dan itu nggak pernah antre BBM,” kisahnya.
Menurutnya, antrean di Samarinda paling terasa pada jam berangkat dan pulang kerja. Kondisi itu membuatnya memilih waktu tertentu untuk mengisi BBM agar tidak terlalu lama menunggu.
Ia biasanya mengisi BBM pada malam hari, sekitar pukul 21.00 hingga 22.00. Namun, yang kembali menjadi kendala ialah jumlah tempat pengisian yang beroperasi 24 jam masih terbatas.
“Di sini kan yang 24 jam cuma di dekat Islamic Center (Jalan Slamet Riyadi). Kalau di Jawa kan banyak yang 24 jam,” tuturnya.
Kebutuhan BBM Jamaludin juga cukup tinggi karena sepeda motor yang digunakannya untuk bekerja bisa menghabiskan bahan bakar dalam sehari. Karena itu, setiap kali BBM habis, ia harus kembali mengisi.
Dirinya pun terpaksa memilih Pertalite karena pertimbangan biaya. Untuk mengisi penuh tangki sepeda motornya menggunakan Pertamax, ia menyebut membutuhkan sekitar Rp55 ribu. Sementara jika menggunakan Pertalite, biayanya sekitar Rp30 ribu.
“Selisih Rp25 ribu. Bisa untuk jajan adik atau keponakan,” ucapnya.
Meski begitu, Jamaludin mengaku sebenarnya ingin menggunakan Pertamax karena proses pengisian dinilainya lebih cepat dan tidak membuatnya terlalu lama kehilangan waktu untuk bekerja.
“Sebenarnya pakai Pertalite karena keadaan. Tapi kalau ada uang sih pinginnya Pertamax, ya cepat. Nggak rugi waktu,” sebutnya.
Persoalan lain muncul ketika stok BBM habis sebelum tiba gilirannya mengisi. Dalam kondisi tersebut, Jamaludin terpaksa membeli BBM secara eceran. Harga eceran pun membuat pengeluaran bertambah sekitar Rp8 ribu hingga Rp10 ribu.
Jamaludin berharap pemerintah dapat menambah fasilitas pengisian BBM dan memperpanjang jam operasionalnya. Ia meyakini penambahan jam operasional hingga 24 jam dapat membantu mengurangi penumpukan kendaraan pada waktu-waktu tertentu.
“Harapannya Kaltim lebih baik, pom bensin ada di mana-mana,” harapnya.
Terkait rencana penggunaan sistem kupon antrean BBM, Jamaludin tidak mempermasalahkannya selama sistem tersebut memberikan kepastian kepada pengemudi dan stok BBM tetap tersedia.
“Selama stoknya masih ada nggak masalah. Yang kita butuh kepastian, karena pernah sudah lama-lama menunggu, tapi tiba-tiba bisa habis,” pungkasnya.
