Samarinda, Infosatu.co – Punya lemari yang penuh dengan pakaian ternyata tidak selalu membuat seseorang lebih mudah menentukan apa yang ingin dikenakan. Ada saja momen ketika pintu lemari sudah dibuka lebar, pakaian sudah terlihat berjejer, tetapi kalimat “nggak punya baju” tetap keluar.
Kondisi tersebut cukup akrab dalam keseharian. Baju yang sebenarnya masih layak dipakai bisa saja tersisih karena terasa sudah terlalu sering dikenakan, tidak cocok dengan suasana hari itu, atau sekadar sedang tidak ingin memakai model tertentu. Pada akhirnya, pilihan pakaian yang terlihat banyak justru terasa sedikit.
Kebiasaan menyimpan pakaian juga membuat isi lemari terus bertambah. Ada pakaian yang dibeli karena modelnya sedang disukai, ada yang didapat saat bepergian, hadiah dari orang lain, hingga pakaian yang awalnya dibeli untuk kebutuhan tertentu tetapi setelahnya jarang kembali dikenakan. Tidak semuanya kemudian menjadi bagian dari pakaian sehari-hari.
Sebagian pakaian justru memiliki cerita masing-masing. Ada kaus lama yang sudah tidak terlalu bagus tetapi tetap disimpan karena nyaman, pakaian pemberian orang terdekat yang sayang dibuang, atau celana yang jarang dipakai karena hanya cocok untuk kesempatan tertentu. Sementara itu, pakaian yang paling sering digunakan biasanya hanya berputar pada beberapa potong yang sama.
Fenomena tersebut membuat persoalan memilih pakaian sebenarnya bukan selalu tentang kekurangan pakaian. Bisa jadi, persoalannya adalah terlalu banyak pilihan yang tersedia, sementara hanya sebagian kecil yang benar-benar terasa cocok dan nyaman digunakan.
Belum lagi kebiasaan membeli pakaian baru ketika merasa bosan dengan isi lemari. Pakaian baru memang memberikan rasa berbeda untuk sementara, tetapi tanpa mengurangi pakaian lama, isi lemari kembali bertambah. Lama-kelamaan, lemari semakin penuh dan pilihan terasa semakin rumit.
Karena itu, kalimat “nggak punya baju” kadang bukan berarti benar-benar tidak memiliki pakaian. Bisa saja yang dimaksud adalah tidak menemukan pakaian yang terasa pas untuk dikenakan pada hari itu.
Pada akhirnya, jumlah pakaian tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya pilihan. Ada kalanya justru pakaian yang paling sederhana, paling nyaman, dan paling sering dipakai menjadi pilihan yang kembali dicari meski lemari sudah penuh.
