infosatu.co
KESEHATAN

Kasus Pneumonia Sempat Naik pada Agustus, Dinkes Ingatkan Warga Waspadai Asap

Teks: Ilustrasi paru-paru manusia. Paparan polusi udara dapat memengaruhi sistem pernapasan. Di RSUD IA Moeis Samarinda, pneumonia dan bronkitis yang banyak ditangan sepanjang Juli hingga September 2026. (Ilustrasi/AI)

Samarinda, Infosatu.co – Pneumonia dan bronkitis dewasa menjadi dua jenis gangguan pernapasan yang paling banyak ditangani di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda sepanjang Juli hingga September 2026 berjalan.

Data pelayanan rumah sakit menunjukkan, kasus pneumonia masih menempati angka cukup tinggi baik pada layanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun rawat inap.

Pada layanan IGD, pasien pneumonia tercatat 100 kasus pada Juli. Jumlah tersebut meningkat menjadi 140 kasus pada Agustus, sebelum turun menjadi 57 kasus pada September.

Sementara kasus bronkitis dewasa di IGD tercatat 127 kasus pada Juli, kemudian 119 kasus pada Agustus dan 75 kasus pada September.

Pola serupa terlihat pada layanan rawat inap. Pasien pneumonia mencapai 89 kasus pada Juli dan meningkat menjadi 91 kasus pada Agustus, kemudian tercatat 33 kasus pada September.

Untuk bronkitis dewasa, jumlah pasien rawat inap mencapai 38 kasus pada Juli, turun menjadi 33 kasus pada Agustus dan kembali menurun menjadi 14 kasus pada September.

Selain dua diagnosis tersebut, rumah sakit juga menangani pasien dengan asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), serta bronkitis pada anak.

Pada layanan IGD, bronkitis anak tercatat 2 kasus pada Juli, meningkat menjadi 14 kasus pada Agustus, kemudian turun menjadi 5 kasus pada September. Sementara kasus asma dan PPOK masing-masing tercatat 7 kasus pada Juli, kemudian turun menjadi 3 kasus pada Agustus dan 2 kasus pada September.

Adapun pada layanan rawat inap, kasus asma tercatat 6 kasus pada Juli, 10 kasus pada Agustus dan 7 kasus pada September. Kasus PPOK masing-masing sebanyak 8, 9 dan 4 kasus pada periode yang sama.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda Ismed Kusasih mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah perubahan kualitas udara yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk serta menggunakan masker untuk mengurangi paparan polutan.

“Karena ini salah satu cara untuk mengurangi (peningkatan penyakit),” katanya.

Berdasarkan pemantauan kualitas udara pada Minggu 20 September 2026 pukul 12.00 Wita, ISPU Samarinda berada pada angka 28 atau kategori baik, dengan parameter kritis PM2.5. Kondisi tersebut membaik setelah kualitas udara sempat berada pada kategori sangat buruk hingga berbahaya pada 17–19 September.

Di sisi pelayanan kesehatan, Ismed memastikan fasilitas pengobatan dan ketersediaan alat kesehatan tetap siap apabila terjadi peningkatan jumlah pasien, termasuk bahan habis pakai.

“Karena dari Pemkot Samarinda juga ada anggaran untuk kesiapsiagaan terhadap (kemarau) ini,” pungkasnya.

Related posts

Hadapi Dampak Kabut Asap, Layanan Kesehatan Kaltim Disiagakan

Emmy Haryanti

Dinkes Samarinda Siapkan Dukungan Obat untuk Pasien Gagal Jantung di Puskesmas

Rizki

RSUD IA Moeis Miliki Ekokardiografi Canggih untuk Klinik Gagal Jantung

Rizki